Jejak Pengabdian Kiai Ishomuddin: Pengasuh Tiga Kawasan di Annuqayah

Pendidikan98 views

KABAR MADURA | Di kalangan Pondok Pesantren Annuqayah, nama Kiai Ishomuddin kerap disebut dengan penuh hormat. Jejak hidupnya menyimpan kisah tentang ketaatan, keikhlasan, dan kesediaan untuk pulang ketika pesantren membutuhkan, sekalipun itu berarti meninggalkan masa paling indah dalam pencarian ilmu.

Dalam sebuah catatan yang pernah dibaca oleh Kiai Halimi, tercatat bahwa sebelum menjadi sosok penting di Lubangsa, Kiai Ishomuddin sempat mengasuh kawasan Annuqayah daerah Latee. Itu berlangsung hingga sekitar tahun 1953, tahun ketika Kiai Basyir menuntaskan masa belajarnya di Sidogiri, dan giliran Kiai Ishomuddin yang berangkat mondok.

Tahun 1953 menjadi titik awal perjalanan intelektualnya di dua pesantren besar: Tebuireng dan kemudian Sidogiri. Di Sidogiri, beliau hanya dua tahun, padahal saat itu beliau sedang berada pada fase paling menggairahkan dalam mencari ilmu. Namun takdir berkata lain. Sebuah pesan mendesak dari Kiai Ilyas membuatnya harus pulang. Beliau diminta menghentikan proses belajarnya dan langsung mendampingi pengasuhan Pondok Pesantren Lubangsa pada 1959.

Keputusan itu baru terasa maknanya ketika setengah bulan setelah beliau boyong dari Sidogiri, Kiai Ilyas wafat. Seolah ada isyarat bahwa kepulangannya memang diperlukan untuk meneruskan amanah besar yang menanti.

Sejak itu, selama kurang lebih 13 tahun, Kiai Ishomuddin memimpin Pesantren Lubangsa. Masa kepemimpinannya berakhir pada 1973, ketika Kiai Waris kembali ke Annuqayah setelah menyelesaikan pendidikannya dan kemudian mengambil alih pengasuhan Lubangsa. Di tahun yang sama, Kiai Ishomuddin pindah ke kawasan yang kini dikenal sebagai Lubangsa Selatan.

Kisah perjalanan hidupnya menegaskan satu hal: tidak banyak sosok yang pernah mengasuh tiga wilayah berbeda di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah. Kiai Ishomuddin adalah salah satu yang langka, seorang kiai yang bergerak mengikuti panggilan amanah, bukan sekadar keinginan pribadi.

Dalam kesunyian pengabdiannya, ia meninggalkan jejak yang tak hanya membentuk wajah pesantren, tetapi juga menguatkan tradisi kepesantrenan yang tegak di atas keikhlasan para pengasuhnya. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *