KABAR MADURA | Produksi padi di Kabupaten Sampang menunjukkan capaian signifikan. Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Disperta KP) Sampang, luas lahan tanam padi pada tahun ini mencapai 8.000 hektare dan mampu menghasilkan sekitar 346 ribu ton beras.
Kepala Disperta KP Sampang Suyono menjelaskan, peningkatan produktivitas itu tidak terlepas dari perluasan areal tanam serta peran aktif petani dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam mendorong perluasan lahan.
“Luas tanam padi tahun ini mencapai delapan ribu hektare dengan total produksi sekitar 346 ribu ton beras. Meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 325 ton, ini bukti sektor pertanian kita bergerak positif,” ujarnya, Kamis (20/11/2025).
Suyono menambahkan, capaian itu diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus menjaga stabilitas harga beras di pasaran.
“Ketahanan pangan Sampang berada dalam kategori aman karena masyarakat Madura cenderung mempertahankan gabah di wilayah sendiri, kebiasaan ini menjaga cadangan pangan tetap terkontrol dan tidak terpengaruh oleh dinamika pasar luar daerah,” jelasnya.
Namun demikian, di lapangan masih ditemukan persoalan yang berpotensi menghambat produktivitas musim tanam berikutnya. Sejumlah petani mengeluhkan kelangkaan pupuk bersubsidi, terutama jenis Urea dan NPK, yang mulai dirasakan sejak awal November.
Di Kecamatan Karang Penang dan Kedungdung, petani mengaku kesulitan memperoleh pupuk subsidi meski produksi padi meningkat hingga 346 ribu ton. Kholil, petani asal Karang Penang, mengungkapkan keresahannya.
“Di desa saya tidak ada kios penebusan pupuk subsidi, sementara kalau beli ke kios desa sebelah per sak harganya Rp 165 ribu,” ungkapnya.
Akibat kondisi tersebut, sebagian petani terpaksa mengurangi takaran pupuk atau menunda pemupukan, yang dikhawatirkan dapat menurunkan hasil panen pada musim tanam mendatang. (yan/zul)





