Santri, Konten Kreator, dan Etika Makna di Tengah Ledakan Budaya Media Sosial

Pendidikan49 views

KABAR MADURA | PAMEKASAN – Ledakan budaya digital telah mengubah wajah masyarakat secara radikal. Media sosial bukan lagi sekadar ruang hiburan, melainkan arena produksi makna, pembentukan identitas, dan perebutan pengaruh. Dalam konteks inilah kegiatan santri IBS PKMKK dengan tema “Konten Kreator: Mengubah Hobi menjadi Karya Digital yang Edukatif dan Agamis” yang di paparkan oleh Nurul Hikmah, M.Pd, seorang konten kreator @emakbk menawarkan sebuah perspektif penting, bahwa dunia konten tidak harus jatuh pada banalitas, sensasi, dan konflik, tetapi dapat diarahkan menjadi ruang edukasi, dakwah kultural, dan pemersatu sosial.

Gagasan ini sebenarnya, menantang asumsi lama bahwa kesalehan dan kreativitas digital berada di dua kutub yang berseberangan. Justru sebaliknya, dunia digital membuka peluang baru untuk menghadirkan nilai-nilai keagamaan dalam bahasa zaman.

Konten kreator hari ini dapat dipahami sebagai aktor sosial baru. Mereka tidak sekadar memproduksi hiburan, tetapi ikut membentuk opini publik, selera budaya, bahkan orientasi moral generasi muda. Hal ini menegaskan bahwa peran utama kreator meliputi kreasi ide edukatif, riset berbasis algoritma dan kebutuhan audiens, serta interaksi melalui personal branding dan komunikasi dengan pengikut.

Ini menunjukkan bahwa produksi konten bukan aktivitas acak, melainkan kerja sosial yang terstruktur. Kreator menjadi semacam “pendidik informal” yang bekerja di luar sistem sekolah, tetapi pengaruhnya sering kali jauh lebih luas dan cepat.

Dalam konteks santri, kehadiran mereka di ruang digital menandai pergeseran medan dakwah, dari mimbar ke layar, dari ceramah satu arah ke interaksi dua arah, dari teks panjang ke visual dan narasi singkat.

Ajakan untuk mengubah hobi menjadi karya digital edukatif mencerminkan proses aktualisasi diri. Ketika hobi, menulis, berbicara, menggambar, atau bercerita, diolah menjadi konten yang bermakna, individu mengalami peningkatan sense of purpose. Aktivitas kreatif tidak lagi sekadar pelarian emosional, tetapi menjadi sarana kontribusi sosial.

Kegiatan ini, menguraikan beragam jenis konten yang dapat dikembangkan santri, seperti konten edukasi, storytelling, konten lucu, inspirasi, wawancara, interaktif, hingga testimoni dan review, selama tetap bernuansa keagamaan dan mendidik.

Keberagaman format ini penting karena menyesuaikan gaya belajar dan preferensi audiens yang berbeda-beda. Kreativitas yang disalurkan secara positif juga berfungsi sebagai proteksi psikologis. Di tengah maraknya konten destruktif, hoaks, dan ujaran kebencian, santri yang aktif memproduksi konten bermakna tidak hanya melindungi diri dari konsumsi negatif, tetapi juga membantu membangun ekosistem digital yang lebih sehat.

Salah satu poin penting dalam kegiatan tersebut adalah penegasan batas etis, konten tidak boleh digunakan untuk memfitnah, memecah belah umat beragama, atau merendahkan suku dan ras. Ini menegaskan bahwa kreativitas digital harus berjalan seiring dengan etika sosial.

Sementara ruang digital merupakan ruang publik baru. Apa yang diunggah bukan lagi urusan personal semata, tetapi memiliki dampak kolektif. Oleh karena itu, konten kreator, terutama santri, memikul tanggung jawab moral sebagai penjaga harmoni sosial.

Di sinilah nilai keagamaan menemukan relevansinya, bukan sebagai simbol identitas sempit, tetapi sebagai kompas etis dalam berinteraksi di ruang digital yang cair dan rentan konflik.

Baca Juga:  Pimpinan DPRD Pamekasan Kagumi Produktivitas Kiai dan Santri IBS PKMKK 

Kegiatan ini juga menyinggung personal branding sebagai bagian dari strategi konten. Personal branding sering disalahpahami sebagai pencitraan kosong. Namun, dalam kerangka pendidikan karakter, personal branding dapat dimaknai sebagai konsistensi nilai yang ditampilkan secara publik.

Bagi santri, personal branding bukan soal popularitas, melainkan kejelasan identitas moral. Ketika kejujuran, kesantunan, dan pesan edukatif menjadi ciri konten, maka branding tersebut sejatinya adalah refleksi karakter, bukan topeng sosial.

Kegiatan ini, menegaskan bahwa konten yang dihasilkan diharapkan menjadi pemersatu bangsa. Ini penting dalam konteks Indonesia yang plural dan rentan polarisasi. Konten edukatif dan agamis yang inklusif dapat berfungsi sebagai dakwah kultural, menyampaikan nilai Islam tanpa menghakimi, tanpa provokasi, dan tanpa eksklusivisme. Dakwah semacam ini tidak memaksa, tetapi mengundang, tidak berteriak, tetapi menyentuh kesadaran. Ia bekerja melalui makna, bukan tekanan.

Kegiatan “Konten Kreator: Mengubah Hobi menjadi Karya Digital yang Edukatif dan Agamis”, menunjukkan bahwa masa depan dakwah dan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum formal, tetapi juga oleh siapa yang menguasai ruang digital dan dengan nilai apa. Santri yang kreatif, sadar etika, dan matang secara psikologis dapat menjadi aktor penting dalam membentuk peradaban digital yang lebih manusiawi. Di tengah hiruk-pikuk konten instan dan dangkal, kehadiran konten edukatif dan agamis bukan sekadar alternatif, tetapi kebutuhan sosial. Dari hobi yang sederhana, lahirlah karya digital yang bermakna. Dan dari karya itulah, hikmah menemukan jalannya di tengah zaman yang terus berubah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *