Try Sutrisno Tutup Usia, Jejak Perjalanan dari Penjual Koran hingga Wakil Presiden

News, Headline104 views

KABAR MADURA | Indonesia kehilangan salah satu tokoh penting dalam sejarah pemerintahan dan militer. Wakil Presiden ke-6 RI, Try Sutrisno, meninggal dunia dalam usia 90 tahun. Kepergiannya menutup perjalanan panjang seorang prajurit yang menapaki karier dari bawah hingga mencapai posisi tertinggi kedua di negeri ini.

Lahir di Surabaya pada 15 November 1935, Try Sutrisno tumbuh dalam situasi Indonesia yang belum sepenuhnya stabil pascakemerdekaan. Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas membuatnya harus membantu sejak usia belia. Dia pernah menjajakan rokok, koran, dan air minum di stasiun kereta untuk meringankan beban keluarga.

Pengalaman masa kecil itu membentuk karakter Try Sutrisno menjadi pribadi yang disiplin dan pekerja keras. Nilai-nilai itu kemudian menjadi fondasi kuat dalam perjalanan hidupnya, terutama saat memutuskan meniti karier di dunia militer.

Perjalanan menuju dunia kemiliteran tidak sepenuhnya mulus. Try Sutrisno sempat menghadapi kegagalan dalam tahap awal seleksi pendidikan militer. Namun kesempatan berikutnya, dia manfaatkan dengan baik hingga akhirnya diterima dan resmi menjadi bagian dari Angkatan Darat (AD).

Sejak saat itu, kariernya terus berkembang. Dia terlibat dalam berbagai penugasan strategis di sejumlah wilayah yang membutuhkan stabilitas keamanan. Pengalaman lapangan itu memperkuat reputasinya sebagai perwira dengan dedikasi tinggi.

Kepercayaan besar datang ketika dia ditunjuk sebagai ajudan Presiden Soeharto. Posisi tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan kariernya. Dari sana, Try Sutrisno kemudian dipercaya menduduki jabatan Panglima ABRI sebelum akhirnya dilantik sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia pada periode 1993–1998.

Selama menjabat sebagai Wakil Presiden, Try dikenal sebagai sosok yang tidak banyak tampil dalam polemik politik. Dia lebih memilih menjalankan tugas kenegaraan secara administratif dengan pendekatan yang tenang dan terukur.

Bagi kalangan militer, dia dikenang sebagai figur yang menjunjung tinggi loyalitas serta kedisiplinan institusi. Sementara bagi publik, kisah hidupnya menjadi gambaran nyata bahwa latar belakang sederhana bukanlah penghalang untuk meraih posisi tertinggi dalam pengabdian kepada negara.

Kepergian Try Sutrisno bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi bangsa yang pernah menyaksikan kiprah panjangnya dalam pemerintahan dan militer. Perjalanannya dari seorang anak yang berjualan di stasiun hingga menjadi Wakil Presiden akan tetap tercatat sebagai bagian penting dari sejarah Indonesia. (nur/zul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *