KABAR MADURA | Menjelang Idulfitri, penyedia jasa penukaran uang mulai berjejer di sepanjang Jalan Mayjen Sungkono, Bangkalan. Aktivitas ini menjadi pemandangan tahunan setiap Ramadan, ketika masyarakat membutuhkan uang pecahan baru untuk berbagai keperluan lebaran.
Namun, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, para penjaja jasa penukaran uang mengaku mengalami penurunan jumlah penukar. Kondisi ity membuat keuntungan yang mereka peroleh semakin kecil.
Salah satu penjaja jasa penukaran uang di Bangkalan, Anna, mengatakan dirinya sudah menjalani profesi musiman ini selama puluhan tahun. Menurutnya, tahun ini menjadi salah satu periode yang paling sepi dibandingkan tahun sebelumnya.
“Saya menjalani profesi ini dalam momen menjelang Idulfitri saja. Hanya untuk tahun ini hasilnya kecil, makanya saya setelah sudah sore kerja sambilan lagi,” ujarnya, Rabu (11/3/2026).
Anna menjelaskan, uang pecahan yang disediakan untuk ditukarkan sebagian besar diperoleh dari pengepul di Surabaya. Karena harus mengambil dari pihak kedua, maka margin keuntungan yang didapat menjadi sangat terbatas.
Keuntungan yang diperoleh hanya sekitar Rp3 ribu untuk setiap penukaran Rp100 ribu. Kondisi itu berbeda dengan anggapan sebagian masyarakat yang menilai penyedia jasa penukaran uang bisa meraup keuntungan hingga belasan persen.
“Selain orang yang menukarkan uangnya tidak seperti dulu, saat ini diperparah harus ambil di pengepul semua. Jadi keuntungan makin kecil, isu keuntungan 15% tidak sepenuhnya benar,” ungkapnya.
Anna menambahkan, sebagian modal usaha yang digunakan berasal dari pinjaman. Hal itu membuat beban usaha semakin berat karena harus mengembalikan pinjaman dengan tambahan bunga.
“Yang enak itu kalau punya modal sendiri, beda dengan saya, saya kadang 60 persen modal merupakan hasil pinjaman,” tukasnya. (fik/zul)






