Kisah Masyithah Mardhatillah, Ibu Tiga Anak dari Pamekasan Tempuh Studi Doktoral di Jerman

Harmoni162 views

Di tengah kentalnya budaya patriarki dan pandangan yang sangat menoton mengenai peran perempuan, seorang dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Madura, Masyithah Mardhatillah, membuktikan bahwa menjadi ibu dari tiga anak bukanlah hambatan untuk meraih pendidikan tertinggi. 

Saat ini, dosen yang kerap dipanggil Itha, sedang menempuh studi S3 (doktoral) di bidang Islamwissenschaft (Kajian Islam), Orientalisches Seminar, Universität Freiburg, Jerman.

DEWI FITRIA, KABAR MADURA

Perjalanan ini bukanlah hal yang mudah. Perempuan kelahiran di Sumenep 17 Juni 1989 yang telah mengabdi sebagai PNS itu mengaku sempat menganggur selama 11 tahun setelah menyelesaikan pendidikan S2 di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Namun, dorongan untuk terus berkembang dan memperbaiki keilmuannya, yang mana membuatnya membulatkan tekad untuk terbang ke Eropa.

Dalam cerita santai di sela-sela pengambilan data risetnya di Madura, diungkapkan bahwa keputusannya berangkat ke Jerman didasari oleh keinginan jujur untuk kembali fokus membaca, berdiskusi, dan menulis tanpa terdistraksi oleh beban administrasi kantor atau rutinitas rumah tangga yang padat.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

“Selama jadi istri dan ibu, hampir tidak ada waktu untuk diri sendiri. Semua dilakukan untuk orang lain. Di Jerman, saya akhirnya bisa merasakan tidur nyenyak dan fokus belajar. Saya merasa perlu upgrade diri agar tidak menjadi dosen yang ‘itu-itu saja’ bagi mahasiswa saya,” ungkapnya, Senin (20/4/2026).

Menariknya, keberangkatan Itha ke Jerman mendapat dukungan penuh dari sang suami, Moh. Hoirul Hamdani. Meski begitu, sempat dipertanyakan oleh lingkungan sekitar, termasuk orang tuanya sendiri, yang khawatir akan nasib anak-anak yang ditinggalkan sementara.

Baca Juga:  Tiga Peserta Magang Kemenaker 2026 Resmi Selesaikan Program Magang di Kabar Madura

Menurutnya, sang suami memahami betul bahwa sebelum menjadi istri dan ibu, istrinya adalah individu yang memiliki cita-cita besar. Dengan melakukan negosiasi dari hati ke hati, dan saling memahami satu sama lain, yang mana menjadi kunci utama. 

Bahkan, rekan-rekannya di Jerman pun kagum pada sosok suaminya yang bersedia mengambil peran besar dalam mengasuh tiga anak di rumah selama ia menuntut ilmu.

Pengalaman sekolah di Jerman memberikan perspektif baru bagi Itha. Ia menceritakan betapa berbedanya sistem pendidikan di sana, mulai dari hilangnya hierarki kaku antara dosen dan mahasiswa hingga fasilitas publik yang sangat mendukung dan juga iklim belajarnya. Mahasiswa di Jerman terbiasa memanggil profesor dengan nama depan, menciptakan suasana egaliter. Perpustakaan kampus buka hampir sepanjang hari, bahkan menyediakan fasilitas untuk beristirahat bagi mahasiswa yang sedang riset mendalam.

Itha juga bercerita bahwa meski telah menguasai bahasa Inggris, namun bahasa Jerman masih menjadi tantangan utama. Terlebih, dalam kehidupan sehari-hari, seperti saat berbelanja atau berinteraksi dengan warga lokal. 

Dia memberikan pesan, utamanya bagi para perempuan yang sedang bimbang antara mengejar karir, pendidikan, dan urusan rumah tangga, bahwa penting memiliki tokoh panutan atau keteladanan dan juga ketekunan.

“Saya percaya tidak ada orang pintar, yang ada hanya orang tekun dan malas. Punya mimpi itu penting. Jika ada kesempatan, ambil saja. Kita tidak perlu membuktikan apa-apa kepada orang lain, cukup setialah pada semangat untuk terus belajar,” tambahnya.

Baca Juga:  Ahli Falak UIN Madura Prediksi Iduladha 1447 H Indonesia dan Makkah Berpotensi Bersamaan

Dia dijadwalkan akan menyelesaikan studinya pada tahun 2029 mendatang dan berharap dapat membawa keluarganya ke Jerman di sisa masa studinya untuk memberikan pengalaman internasional bagi anak-anaknya. Ia juga telah membuktikan kepada seluruh perempuan Indonesia, bahwa wanita tidak harus selalu menjadi ibu rumah tangga, mengurus suami, anak bahkan omongan para tetangga, ia membuktikan bahwa semangat dalam mencapai cita-cita adalah sebuah keinginan yang sangat mulia. Menyenangkan diri sendiri, kemudian memilki semangat Kartini, dan cita-cita yang menjunjung tinggi.

Semangat Itha yang menempuh studi hingga ke Jerman seolah menjadi napas modern dari kegandrungan Kartini terhadap ilmu. Jika dulu Kartini membaca literatur Eropa dari balik tembok pingitan untuk membuka matanya tentang dunia, kini Ibu Itha menjemput literatur itu langsung di jantung Eropa untuk membawa pulang perspektif baru bagi kemajuan pendidikan di Madura.

“Oya soal Kartini. I would say, yang paling relevan dari dia adalah kegandrungannya terhadap ilmu di tengah keterbatasan. Ia melampaui zamannya, sudah sedini itu mengkritik feodalisme termasuk patriarki dan kolonialisme Belanda. Dari mana ia tahu? Karena dia bisa Bahasa Belanda dan membaca surat kabar dan literatur yang membuka matanya perihal bagaimana dunia seharusnya bekerja” tukasnya. (waw)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *