Momentum Istiwaul A’dham 2026, Ahli Astronomi Islam UIN Madura Ajak Masyarakat Koreksi Arah Kiblat

Berita42 views

KABAR MADURA | Umat Islam akan kembali mengalami fenomena astronomi penting yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan pembetulan arah kiblat secara akurat pada 27-28 Mei 2026. Momentum tersebut dikenal dengan istilah istiwaul a’dham atau transit utama Matahari tepat di atas ka’bah.

Ahli Astronomi Islam Fakultas Syariah UIN Madura, Achmad Mulyadi, menjelaskan, fenomena ini terjadi ketika posisi semu Matahari tepat melintasi zenit ka’bah di Makkah. Dalam kondisi tersebut, sinar Matahari jatuh tegak lurus di atas Ka’bah sehingga bayangan benda di berbagai wilayah bumi dapat dijadikan acuan penentuan arah kiblat.

“Istiwaul a’dham merupakan salah satu metode astronomis paling akurat dalam verifikasi arah kiblat karena bersandar langsung pada observasi empiris posisi Matahari,” ujarnya, Minggu (24/5/2026).

Mulyadi menerangkan, secara astronomis fenomena itu terjadi karena gerak semu tahunan matahari yang bergerak dari garis balik selatan menuju garis balik utara. Ketika deklinasi matahari hampir sama dengan lintang ka’bah, matahari mencapai titik kulminasi tertinggi tepat di atas Ka’bah.

Baca Juga:  Internasionalisasi Akademik Menguat, PBA UIN Madura Bangun Kolaborasi Global dengan Universitas di Mesir

Peristiwa itu umumnya terjadi dua kali dalam setahun, yakni sekitar 27-28 Mei dan 15-16 Juli. Namun waktunya dapat sedikit berubah akibat pengaruh tahun kabisat, persamaan waktu (equation of time), serta dinamika orbit bumi.

JJS Kabar Madura

Menurutnya, pada saat istiwaul a’dham berlangsung, arah datang cahaya matahari dari berbagai wilayah di bumi akan membentuk garis lurus menuju ka’bah. Sebab itu, bayangan benda tegak lurus akan menunjukkan arah kiblat secara langsung.

“Seluruh bayangan benda tegak lurus di wilayah yang masih dapat melihat matahari akan mengarah tepat berlawanan dengan posisi Ka’bah. Dengan kata lain, arah menuju matahari saat itu identik dengan arah kiblat,” katanya.

Dia menilai metode ini memiliki tingkat akurasi tinggi dibanding penggunaan kompas yang berpotensi dipengaruhi medan magnet lokal maupun gangguan logam di sekitar lokasi.

Baca Juga:  Undang Dosen Universiti Malaya, Fakultas Syariah UIN Madura Gelar International Visiting Lecturer

Untuk wilayah Indonesia bagian barat, pembetulan arah kiblat dapat dilakukan pada 27-28 Mei 2026 atau bertepatan 10-11 Dzulhijjah 1447 Hijriah sekitar pukul 16.18 WIB hingga 16.23 WIB.

Masyarakat hanya perlu menyiapkan benda yang benar-benar tegak lurus seperti tongkat, tiang, atau benang berbandul. Setelah itu, arah bayangan benda diamati tepat pada waktu yang telah ditentukan.

“Arah yang berlawanan dengan bayangan tersebut merupakan arah kiblat menuju ka’bah,” jelasnya.

Mulyadi mengajak masyarakat memanfaatkan momentum itu untuk memastikan kembali ketepatan arah kiblat masjid, mushala, pesantren, kampus, kantor hingga rumah tinggal.

“Fenomena ini menjadi sarana edukasi penting dalam pengembangan ilmu falak Islam bahwa penentuan arah kiblat tidak hanya berbasis teori, tetapi juga dapat diverifikasi secara empiris melalui fenomena astronomi yang dapat diamati langsung,” pungkasnya. (nur/zul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *