KABAR MADURA | Hubungan antara dunia industri energi dan lembaga pendidikan berbasis keislaman memasuki babak baru. Pengasuh dan manajemen IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK), menerima kunjungan strategis dari Rochman Hidayat, M.Si., Head of Human Capital, Facility and Community (HCFC) PT Paiton Energy, Kamis (5/6/2026).
Pertemuan yang berlangsung hangat di lobi Gedung Utama IBS PKMKK ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, melainkan sebuah momentum penting untuk membangun kolaborasi konseptual yang strategis demi masa depan pendidikan berkelanjutan.
Dalam dialog tersebut, Direktur Utama IBS PKMKK Prof. Dr. KH. Kiai Achmad Muhlis menegaskan komitmen IBS PKMKK dalam membangun paradigma pendidikan yang transformatif. Menurutnya, pendidikan saat ini tidak boleh hanya berorientasi pada transfer ilmu, tetapi juga harus menyentuh kesadaran ekologis dan spiritual.
“Ekoteologi pesantren dipahami sebagai jembatan antara nilai tauhid, etika lingkungan, dan praktik sosial-ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam itu.
Selain ekoteologi, tambah Ketua Senat UIN Madura itu, pertemuan tersebut juga menyoroti pentingnya penerapan ekonomi sirkular di lingkungan pesantren. Instrumen praksis ini dinilai mampu mengurangi limbah dan meningkatkan efisiensi sumber daya, memperkuat kemandirian ekonomi berbasis komunitas pesantren, dan mengoptimalkan kearifan lokal sebagai fondasi pembangunan.
Model Kolaborasi Berbasis Pemberdayaan Masyarakat
Kunjungan ini sekaligus menandai arah baru kerja sama yang akan dikembangkan melalui dua pendekatan ilmiah dan praktis, yaitu Participatory Action Research (PAR). Yakni, memastikan program kolaboratif lahir dari partisipasi aktif komunitas, bukan sekadar instruksi dari atas (top-down).
Pendekatan lainnya berupa Asset Based Community Development (ABCD). Yaitu, fokus pada pemetaan dan penguatan aset lokal yang sudah dimiliki oleh pesantren dan masyarakat sekitar.
Melalui pendekatan ini, PT Paiton Energy dan IBS PKMKK menemukan kesamaan visi dalam mendorong agenda keberlanjutan. Kolaborasi ini diarahkan pada program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility / CSR) yang lebih transformatif, ekologis, dan berbasis pemberdayaan masyarakat nyata.
Pertemuan strategis ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya model kolaborasi percontohan antara industri energi raksasa dan dunia pesantren. Sebuah integrasi yang kuat antara ilmu, iman, dan keberlanjutan lingkungan dalam satu tarikan napas peradaban. (*)






