KABAR MADURA | Lajnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) resmi menetapkan awal bulan Muharram 1448 Hijriah jatuh pada Rabu Kliwon, 17 Juni 2026.
Keputusan ini diambil melalui mekanisme istikmal, yaitu menyempurnakan bulan Zulhijah menjadi 30 hari, setelah hilal tidak berhasil teramati di seluruh wilayah Indonesia pada Selasa sore.
Menanggapi hasil tersebut, Guru Besar Ilmu Falak UIN Madura, Prof. Achmad Mulyadi, memberikan analisis mendalam. Menurutnya, kegagalan terlihatnya hilal kali ini menjadi bukti nyata bahwa keberhasilan rukyat tidak hanya melulu soal hitungan matematis di atas kertas (astronomis), tetapi sangat dipengaruhi oleh variabel non-astronomis di lapangan.
“Publik sering kali hanya fokus pada tinggi hilal, elongasi, atau umur bulan. Padahal, realitas di lapangan menunjukkan bahwa faktor non-astronomis memiliki pengaruh yang sangat signifikan, bahkan sering kali menjadi penentu akhir,” ujar Prof. Achmad Mulyadi saat diwawancarai, Selasa (16/6/2026).
Tantangan Cuaca dan “Lembayung Senja” yang Menipu
Berdasarkan laporan dari 21 titik pengamatan di seluruh Indonesia—mulai dari observatorium di Banda Aceh dan Madura, Balai Rukyah di Jawa Timur dan Jawa Tengah, hingga kawasan pesisir—seluruh tim melaporkan hilal tidak terlihat akibat kendala atmosfer.
Prof. Achmad Mulyadi menjelaskan bahwa kondisi meteorologis dan kualitas atmosfer lokal di ufuk barat merupakan musuh utama para pemburu hilal. Kondisi langit yang dilaporkan sangat beragam, mulai dari berkabut, mendung, hingga langit yang tampak cerah namun didominasi warna lembayung senja secara menyeluruh.
“Warna lembayung senja yang dominan itu sebenarnya adalah bentuk hamburan cahaya atmosfer. Ketika cahaya senja terlalu kuat, kontras antara hilal yang sangat tipis dengan latar belakang langit menjadi sangat rendah. Akibatnya, hilal menyusut kejelasannya dan mustahil dideteksi, baik dengan mata telanjang maupun instrumen optik modern,” jelasnya.
Selain cuaca, polusi udara, debu, asap, dan tingginya kandungan uap air di area hilal yang masih rendah di atas ufuk turut memperparah hamburan cahaya tersebut.
Faktor Geografis, Kesiapan Teknologi, dan SDM
Lebih lanjut, Prof. Achmad Mulyadi memetakan empat aspek non-astronomis lainnya yang saling berkelindan dalam proses rukyatul hilal.
Pertama, aspek geografis. Lokasi ideal harus memiliki ufuk barat yang terbuka, bebas dari penghalang fisik seperti pegunungan, gedung tinggi, atau vegetasi lebat.
Kedua, jam terbang pengamat. Kemampuan membedakan hilal asli dari gangguan visual (seperti awan tipis atau jejak pesawat) memerlukan keahlian khusus dan pengalaman bertahun-tahun.
Ketiga, teknologi dan kalibrasi. Penggunaan teleskop dan kamera digital resolusi tinggi sangat membantu, namun akurasi kalibrasi alat dan kompetensi operator tetap menjadi kunci penentu.
Keempat, koordinasi kelembagaan. Standardisasi metode observasi dan kecepatan verifikasi data antarlembaga penting untuk memastikan hasil rukyat valid secara ilmiah (sains) dan syar’i (agama).
“Kasus awal Muharram 1448 H ini memberikan pelajaran penting bagi kita semua. Evaluasi hasil rukyat harus dilakukan secara komprehensif. Kita harus mengombinasikan ketajaman hisab (perhitungan) dengan kesiapan total mengantisipasi dinamika alam di lapangan,” tambah Guru Besar UIN Madura tersebut.
Imbauan Amalan di Bulan Muharram 1448 H
Menyikapi ketetapan awal Muharram yang jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026, LF PBNU mengimbau umat Islam untuk menyambut tahun baru hijriah ini dengan meningkatkan amal ibadah.
Dengan pemahaman yang utuh baik dari sisi keilmuan falak maupun ketaatan beragama, diharapkan umat Islam dapat memulai tahun baru 1448 Hijriah ini dengan penuh kekhusyukan dan persatuan. (*)





