Presiden Madura United Kenang Kembali Momentum Ikonis Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan

Olahraga22 views

KABAR MADURA | Turnamen sepak bola terbesar sejagat, Piala Dunia, selalu dinanti bukan hanya karena tensi pertandingannya, melainkan juga warisan dan dampak besar yang ditinggalkannya bagi perkembangan sepak bola global.

Harapan besar ini disampaikan langsung oleh Presiden Madura United FC, Prof. Dr. Achsanul Qosasi.

Tokoh nasional asal Madura ini berharap gelaran Piala Dunia kali ini mampu menyajikan pengaruh yang signifikan dan menjadi batu loncatan baru bagi industri sepak bola modern.

“Piala Dunia kali ini semoga menyajikan pengaruh besar dalam sepak bola,” ujar Prof. AQ, panggilan akrab Achsanul Qosasi, saat memberikan pandangannya mengenai kilas balik sejarah Piala Dunia, Minggu (21/6/2026).

Dalam catatannya, Prof. AQ mengajak pecinta sepak bola untuk mengenang kembali momentum ikonis pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Baginya, edisi itu memiliki karakteristik unik yang sulit dilupakan, mulai dari budaya hingga lahirnya para megabintang.

AQ menyoroti tiga hal magis dari Afrika Selatan, diantaranya lagu resmi (anthem) terbaik. Melodi dan ritme Piala Dunia 2010 diakui sebagai salah satu yang terbaik sepanjang sejarah turnamen.

Kemudian, ⁠keriuhan Vuvuzela. Terompet khas Afrika Selatan yang bising namun ikonik, berhasil memberikan atmosfer unik di setiap pertandingan. Serta, lahirnya para pemain ajaib. Edisi ini menjadi panggung pembuktian generasi emas sepak bila, mulai dari Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Andres Iniesta, hingga kejutan dari Asamoah Gyan.

Meski Afrika Selatan begitu berkesan, dalam hal manajemen dan kepuasan secara keseluruhan, pandangan Prof. AQ tetap tertuju pada Benua Biru.

Menurutnya, standar tertinggi penyelenggaraan Piala Dunia masih dipegang oleh Jerman saat menjadi tuan rumah pada tahun 2006 silam.

Baca Juga:  Madura United Resmi Berpisah dengan Lima Pemain Muda

“Namun dalam hal Penyelenggaraan Piala Dunia 2006 di Jerman, masih yang terbaik karena kepuasan suporter dan peserta yang hadir saat itu, ditambah drama seruduk dari Zidane,” tegas Prof. AQ.

Baginya, harmoni antara kenyamanan penonton, fasilitas bagi tim peserta, hingga bumbu drama historis seperti kartu merah Zinedine Zidane di partai final, membuat Piala Dunia 2006 menjadi mahakarya penyelenggaraan yang belum tertandingi hingga saat ini.

Melalui refleksi sejarah ini, AQ berharap standar tinggi yang pernah dicapai Jerman dan kemeriahan budaya di Afrika Selatan dapat melebur dalam gelaran Piala Dunia periode ini, demi kemajuan sepak bola yang lebih luas. (rul)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *