KABAR MADURA | Penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 yang digelar di Institut Islam Syaichona Mohammad Cholil Bangkalan, Selasa (23/6/2026), dihadiri Presiden Prabowo Subianto.
Sejumlah tokoh penting turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, serta Ketua MPR RI MPR RI Ahmad Muzani.
Dalam kesempatan itu, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa Indonesia mengalami kebocoran uang negara hingga Rp15 ribu triliun. Dia mengaku sempat terkejut pada awal masa jabatannya karena besarnya kekayaan negara yang justru mengalir ke luar negeri.
“Menurut data, kerugian negara hingga mencapai 15 ribu triliun,” ujarnya saat memberikan sambutan, Selasa (23/6/2026).
Menurutnya, kondisi itu terjadi akibat adanya net outflow of national wealth, yakni kekayaan, modal, dan keuntungan yang dihasilkan di dalam negeri mengalir ke luar negeri. Padahal, jika dilihat dari neraca ekspor-impor, Indonesia dinilai memiliki kondisi yang positif.
“Net outflow of national wealth sebagai premis yang sampaikan didukung oleh data Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), kalau dilihat 22 tahun terakhir keuntungan kita 436 miliar USD,” ungkapnya.
Selain itu, Presiden Prabowo juga menyebut, berdasarkan neraca ekspor sejak tahun 1984 hingga 2025 secara akumulatif, nilai kekayaan yang tercatat cukup besar.
“Dalam 42 tahun terakhir kekayaan kita 683 miliar USD,” tegasnya.
Presiden Prabowo juga menanggapi pandangan sebagian pihak yang menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah. Menurutnya, pelemahan itu berkaitan dengan fenomena net outflow of national wealth yang terjadi di Indonesia.
“Kalau sekarang ada yang mengatakan rupiah kita lemah ini dan itu, ya karena kekayaan kita keluar, kalau darah kita keluar setiap hari kita ya mati, tapi karena saking kayanya Indonesia sampai saat ini masih berdiri,” pungkasnya. (fik/zul)





