KABARMADURA.ID | SUMENEP-Proyek normalisasi sungai menjadi program rutin setiap tahun oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep. Meski demikian, penganggaran itu terkesan tidak berguna untuk mengatasi banjir di Kota Keris ini.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Sumenep Eri Susanto melalui Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Air Hendri Hartono mengatakan, tahun 2023 kembali menganggarkan. Lokasi pengerjaannya di hilir, yakni di Desa Karanganyar, Kecamatan Kalianget.
Namun dia belum yakin normalisasi itu bisa menjadi solusi mengatasi banjir. Alasannya, ketika hujan deras dan air di hilir atau laut di ujung Sungai Saronggi sedang pasang, maka air dari Sungai Saronggi itu meluap ke wilayah Kota Sumenep.
“Tahun ini kami coba lakukan normalisasi di hilir, tetapi memang untuk di daerah perkotaan dan sekitarnya ini sulit diatasi. Sebab sulit menemukan pembuangan air sehingga pasti terjadi genangan jika hujan deras,” katanya.
Tahun 2021 lalu, anggaran proyek normalisasi sungai senilai kurang lebih Rp1 miliar. Di wilayah kota dianggarkan Rp400 juta, Sungai Sokrah senilai Rp179 juta, Sungai Sarokah senilai Rp179 juta, Sungai Ambat senilai Rp179 juta, Sungai Patrean senilai Rp179 juta dan Sungai Kalianjuk senilai Rp179 juta.
Sementara pada 2020 menelan anggaran lebih banyak, sekitar Rp3,5 miliar. Proyeknya untuk melanjutkan normalisasi di Sungai Kalianjuk dan Kalipatren.
Sedangkan di tahun 2022, proyek normalisasi sungai dikerjakan di dua titik. Lokasinya di Kalianjuk, Desa Muangan, Kecamatan Saronggi dan normalisasi sungai Kali Patrean di Desa Kacongan, Kecamatan Kota Sumenep. Anggarannya sekitar Rp600 juta, khusus Kali Patrean Rp200 juta dan Kalianjuk senilai Rp400 juta.
Anggaran untuk tahun 2023 tembus Rp1 miliar. Dana tersebut sama-sama bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sumenep.
Menanggapi persoalan itu, Sekretaris Komisi III DPRD Sumenep M. Ramzi mengatakan, Pemkab Sumenep jangan hanya memikirkan normalisasi sungai sebagai upaya genangan yang kerap terjadi di daerah perkotaan sendiri.
“Harus dikaji secara luas, apa saja yang menjadi sebab bukan hanya normalisasi sungai. Normalisasi sungai itu sudah lama dilakukan dan itu tidak terbukti hingga hari ini,” paparnya.
PROBLEMATIKA BANJIR SUMENEP
SUMBER MASALAH
- Banjir terjadi setelah intensitas hujan deras tinggi. Jika air di hilir sedang pasang, maka air dari Sungai Saronggi meluap ke wilayah Kota Sumenep.
- Tahun ini Dinas PUTR Sumenep coba menormalisasi hilir
- Wilayah perkotaan dan sekitarnya tetap sulit diatasi karena sulit menemukan pembuangan air sehingga pasti terjadi genangan
SOLUSI YANG DIKERJAKAN
- Protek normalisasi setiap tahun
2021: Rp1 miliar
Sumber anggaran: APBD Sumenep
Rincian:
- Wilayah kota: Rp400 juta
- Sungai Sokrah: Rp179 juta
- Sungai Sarokah: Rp179 juta
- Sungai Ambat: Rp179 juta
- Sungai Patrean: Rp179 juta
- Sungai Kalianjuk: Rp179 juta
2020: Rp3,5 miliar
Proyeknya untuk melanjutkan normalisasi di Sungai Kalianjuk dan Kalipatren
2022: Rp600 juta
Sumber anggaran: APBD Sumenep
- Sungai Patrean Rp200 juta
Lokasi tepatnya di Desa Kacongan, Kecamatan Kota Sumenep
- Sungai Kalianjuk: Rp400 juta
Lokasi tepatnya di Desa Muangan, Kecamatan Saronggi
2023: Rp1 miliar
Sumber anggaran: APBD Sumenep
Lokasi pengerjaannya di hilir, yakni di Desa Karanganyar, Kecamatan Kalianget
Sumber: Dinas PUTR Sumenep
Pewarta: Moh Razin
Redaktur: Wawan A. Husna





