Perjalanan Wiwid, Jurnalis Difabel Tangguh Asal Sampang. Pernah Hampir Diinjak-injak Massa

News263 views

KABARMADURA.ID | Nikmat Tuhan mana lagi engkau dustakan. Kalimat itulah yang terlintas di benak kita, saat melihat perjalanan Tri Cahyo Slamet Widodo (53). Seorang jurnalis yang meski dengan keterbatasan fisik, dia tidak kalah energik dengan jurnalis muda lainnya.

ALI WAFA, SAMPANG

Statusnya saat ini masih aktif sebagai jurnalis Jurnal Mojo. Usianya sudah tidak muda lagi. Anaknya sudah lima, cucunya sudah tiga. Kaki kanannya lumpuh sejak usianya baru 8 tahun. Kondisi pahit itu dialaminya sejak masih bocah.

Kepada Kabar Madura, pria yang karib dipanggil Wiwid itu bercerita, saat usianya masih 2 tahun, dia kerap sakit-sakitan. Orang tuanya pun panik. Mungkin karena terlalu banyak menerima injeksi, akhirnya Wiwid terkena polio.

Kaki kanannya tidak bisa digerakkan. Orang tuanya pun tidak henti-hentinya mencarikan obat untuknya. Setiap pagi, kakinya diembunkan. Wiwid pun tidak mau patah semangat. Bahkan, saat sekolah hingga kuliah dia enggan menggunakan tongkat.

JJS Kabar Madura

“Mungkin saya tidak normal seperti teman-teman. Tapi saya memiliki semangat hidup yang tinggi. Dan saya tidak mau kalah dari yang lain,” tegasnya, Kamis (29/1/2023).

Sebelumnya Wiwid pernah bekerja di PT. Petrogas Jatim Utama. Tugasnya di bagian teknisi dan sosialisasi. Waktu peralihan dari kompor ke LPJ, dia berkeliling ke hampir seluruh wilayah di Jawa Timur untuk mensosialisasikan kepada masyarakat.

Pada tahun 2015, dia pindah ke Sampang bersama keluarga. Saat ini dia tinggal di Desa Patarongan, Kecamatan Torjun. Saat berada di Sampang lah, dia mulai berkarier sebagai jurnalis. Sepanjang perjalanannya sebagai jurnalis, dia telah singgah di tiga perusahaan media.

Meski dengan keterbatasan fisik, namun jangan menyepelekan kemampuan Wiwid. Saya huntingnya cukup tinggi. Dia tidak kalah energik dari jurnalis muda yang fisiknya lebih normal. Di mana ada insiden, di situ ada dia. Begitulah Wiwid. Dia memang suka tantangan.

“Saya suka tantangan. Dan jurnalis itu bisa masuk di mana pun. Mau ke tukang becak kita bisa masuk. Mau ke birokrasi kita juga bisa masuk. Itu enaknya jadi jurnalis,” ungkap pria yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Bayangkara Surabaya itu.

Selama menjadi jurnalis, ada kesan yang tidak akan Wiwid lupakan. Yaitu sikap dari rekan-rekan sejawatnya di kalangan jurnalis yang selalu memberinya semangat dan dukungan. Alih-alih mendiskriminasi, dia justru kerap menerima bantuan dari rekan-rekan jurnalis.

Namun, kesan buruk pernah juga dia dapati. Saat hendak meliput kegiatan unjuk rasa oleh mahasiswa di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sampang. Ketika itu terjadi bentrok antara mahasiswa dengan petugas. Wiwid pun mencoba masuk untuk mengambil gambar.

Wiwid terdorong oleh massa hingga akhirnya dia jatuh tersungkur. Tongkatnya pun lepas dari tangannya. Beruntung, sebelum terinjak-injak massa, dia langsung dibantu oleh rekan jurnalis yang lain. Dia diajak pergi meninggalkan massa aksi yang semakin membabi buta.

Saat ini, Wiwid hanya bisa berdiam di rumah. Dia sedang berusaha keras melawan penyakitnya. Dia tidak bisa lagi hunting meliput kejadian-kejadian menarik. Dia terpaksa harus tangguh seorang diri melawan diabetes dan penyakit jantung serta paru-paru.

“Mohon doa untuk kesembuhan saya. Saya masih ingin berkarya bersama rekan-rekan jurnalis yang lain,” tutupnya lirih.

Redaktur: Wawan A. Husna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *