Di sebuah gedung hijau bertuliskan Kantor Urusan Agama (KUA) Robatal, Kabupaten Sampang, terdapat seorang wanita yang selalu senyum sumringah dan semangat tinggi dalam kesehariannya. Namanya Anis Nurlaili, dia adalah seorang pengawas madrasah yang telah mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan.
ACH. BARISI, SAMPANG
Anis bukan hanya seorang pendidik, tetapi juga sosok inspiratif yang penuh semangat dan pantang menyerah.
Lahir di Sampang 20 Maret 1976, Anis tumbuh dengan semangat belajar yang luar biasa. Sejak kecil, dia sudah terbiasa menghadapi tantangan hidup dan menjadikannya sebagai batu loncatan untuk mencapai impiannya.
Saat kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pamekasan, tidak hanya fokus pada studinya, tetapi juga merantau ke Pare, Kediri, selama enam bulan untuk memperdalam bahasa Inggrisnya. Bukan sekadar kursus pulang-kursus pulang, dia menghabiskan waktunya siang dan malam untuk belajar di berbagai tempat.
Setelah menyelesaikan skripsinya dan lulus pada September 1999, rasa haus akan ilmu pengetahuan membawanya kembali ke Pare untuk melanjutkan kursus hingga Maret 2000. Pada tahun yang sama, Allah memberikan kado luar biasa, dia diterima sebagai pegawai negeri sipil (PNS).
Sejak saat itu, Anis meniti karir dengan penuh dedikasi, meski harus menghadapi berbagai ujian kehidupan, termasuk kehilangan anak pertamanya. Duka yang begitu mendalam nyaris membuatnya terpuruk, tetapi dia memilih untuk bangkit dan terus melangkah.
Dia sangat merasa yakin pada Allah, bahwa doa yang selalu dipanjatkan, dan proses yang selalu ia usahakan tidak akan berakhir dengan sia sia.
Dari Kepala Madrasah hingga Pengawas Berprestasi
Tahun 2005 menjadi titik balik dalam hidupnya. Setelah diangkat sebagai kepala madrasah ibtidaiyah, kemudian pada tahun 2008 mendapatkan amanah baru sebagai kepala madrasah tsanawiyah swasta. Karirnya terus naik hingga akhirnya menjadi pengawas madrasah pada tahun 2009.
Puncaknya, pada tahun 2012, Anis mendapatkan SK Pengawas Pendidikan Agama Islam (PAI) setelah diterbitkannya Peraturan Menteri Agama (PMA) tentang Pengawas Madrasah dan Pengawas PAI di Sekolah Umum/Negeri. Baginya, di mana pun ditempatkan, tidak terlepas dari rencana terbaik Allah.
Dengan motto hidupnya, “Never Refuse Task, Never Complete Task” (Pantang Menolak Tugas, Pantang Tugas Tak Terselesaikan), dijadikannya sebagai pegangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari sebagai pengawas dengan penuh tanggung jawab.
Sebagai pengawas PAIS tingkat dasar di Kabupaten Sampang, Anis harus membagi tugas dengan empat pengawas untuk 14 kecamatan. Dia merasa pekerjaan itu bukan suatu hal yang mudah baginya, setiap proses yang ditekuni, ada kalanya merasa ingin menyerah, frustasi, dan hampir terbebani. Meski begitu, amanah dan pekerjaannya tetap dijalankan dengan penuh semangat, bahkan menganggapnya sebagai bagian dari proses panjang untuk masa depan.
Membawa Nama Sampang ke Kancah Nasional
Tidak hanya bertugas sebagai pengawas, Anis juga aktif menjadi instruktur di berbagai tingkat, dari kecamatan hingga provinsi. Pada tahun 2011, dia dinobatkan sebagai Pengawas Teladan Kabupaten. Pada 2016 meraih anugerah Pengawas PAIS Berprestasi tingkat provinsi.
Namun, di tengah kebanggaan itu, dia harus menerima kenyataan pahit kehilangan kedua orang tuanya. Meski duka menyelimutinya, tetap berusaha tegar dan menyadari bahwa segala yang diambil oleh Allah adalah bagian dari takdir terbaik untuknya.
Tidak lama dari peristiwa itu, Allah pun menghiburnya dengan prestasi demi prestasi. Dia dipanggil by name oleh pemerintah pusat untuk mengikuti pelatihan di Bogor, Jakarta, dan bahkan menjadi visiting teacher di Tarakan, Kalimantan Utara.
Meski telah mencapai tingkat nasional sebagai pengawas PAIS, Anis merasa pengabdiannya di Kementerian Agama belum sempurna. Dia rindu pada madrasah yang menurutnya masih membutuhkan banyak perhatian. Akhirnya, pada awal tahun 2020, dia kembali lagi ke tempat awal peraduannya menjadi pengawas madrasah.
Baginya, ini bukan kemunduran, melainkan awal dari perjalanan baru. Dengan penuh semangat, dia menciptakan berbagai inovasi demi kemajuan madrasah.
Di tengah kesibukan dan tanggung jawab yang diemban, dia juga menyempatkan diri menulis berbagai karya buku, puisi, cerpen, serta novel yang sudah bertaraf ISBN. Salah satu bukunya, “Pendidikan Islam dalam Society Transformation 5.0”, yang ditulis bersama dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
Saat ini, Anis tengah menyelesaikan buku solo berjudul “Moderasi Beragama: Dedikasi untuk Negeri di Era 5.0”.
Menjadi Inspirasi bagi Generasi Muda
Dedikasi Anis dalam dunia pendidikan terus membuahkan hasil. Pada Juni 2022, ia berhasil menjadi Tim Instruktur Kabupaten (TIK), diikuti dengan pencapaiannya sebagai Instruktur Visitasi AKMI.
Bahkan, dalam Anugerah Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) 2022, dia meraih juara favorit dalam kategori best practice.
Tidak hanya di situ, pada tahun 2023, meraih penghargaan sebagai Juara Favorit Nasional GTK Kementerian Agama. Kemudian, pada tahun 2024, berhasil masuk lima besar Best Practice tingkat nasional yang diselenggarakan oleh IGINOS, serta menerima Anugerah Penulis Produktif dari Kanwil Kemenag Jawa Timur.
Pada tahun 2025, menjadi nominator Guru Aktif Literasi Nasional IGINOS, sekaligus dianugerahi Pengawas Aktif Literasi Nasional IGINOS serta Pengawas Sekolah Inovatif Literasi Nasional oleh Ikatan Guru Inovasi dan Penggerak Literasi Nasional.
Prosesnya tidak hanya di situ, dia juga menyiapkan best practice berjudul “Strategi Supervisi melalui SMART (Strengthening Moderation of Religion Thinking)”. Program ini bertujuan mencetak generasi Rabbani yang andal di Madrasah Ibtidaiyah.
Di balik kecemerlangan itu, dia menyembunyikan doanya di sepertiga malam, seraya berbisik dengan indah dan lantang, dengan harapan bisa terus menjadi pengawas madrasah yang berprestasi demi meningkatkan mutu pendidikan.
Baginya, menjadi pengawas bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga ibadah. Seperti yang selalu ia pegang teguh: “Pantang Menolak Tugas, Pantang Tugas Tak Terselesaikan.”
Oleh sebab itu dengan keyakinan dan dedikasi tinggi, Anis Nurlaili terus melangkah, membawa perubahan, dan patut menjadi inspirasi banyak orang di dunia pendidikan, Seorang pengawas hebat memiliki semangat pantang menyerah, tidak mudah terhalang oleh tantangan, dan selalu mencari solusi terbaik dalam setiap situasi.
Dia melibatkan Allah dalam setiap usahanya, bekerja dengan niat yang tulus, penuh keikhlasan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual dalam menjalankan tugasnya.
Selain itu, dia adalah pribadi yang penuh prestasi, senantiasa berinovasi, mengembangkan kompetensi, serta menjadi teladan bagi rekan kerja dan lingkungan sekitarnya. Kombinasi ketiga aspek ini menjadikannya sosok inspiratif yang membawa perubahan positif dan kemajuan dalam dunia pendidikan. (sub/waw)





