KABAR MADURA | Budayawan Sumenep Syaf Anton menyebut kejadian robohnya pagar di ajang Karapan Sapi, Minggu (22/6/2025) di Sumenep juga mencoreng wajah Sumenep di mata publik. Terlebih, insiden tersebut juga menimbulkan korban jiwa.
Tragedi memilukan itu terjadi dalam ajang Lomba Kerapan Sapi “Pakar Sakera” memperebutkan Piala Bupati Cup 2025 yang digelar di Lapangan Giling, Desa Pangarangan, Minggu (22/6/2025). Pagar pembatas sisi timur roboh dan menimpa sejumlah penonton. Akibatnya, satu orang tewas dan tiga lainnya mengalami luka serius.
Syaf Anton juga menyebut kejadian itu tidak hanya duka, tapi juga mencoreng wajah Sumenep. Karena karapan sapi adalah gelaran bergengsi, jadi fasilitasnya harus benar-benar layak.
“Ini bukan sekadar kecelakaan biasa. Ini tragedi budaya yang memalukan. Spontanitas dan antusiasme masyarakat sangat tinggi, bahkan banyak penonton datang dari luar kabupaten. Tapi apa yang terjadi? Fasilitas rusak dan tidak diperhatikan. Pemerintah lalai,” kata Syaf Anton kepada Kabar Madura, Senin (23/6/2025).
Dia menyesalkan lemahnya perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep terhadap infrastruktur lokasi budaya seperti Lapangan Giling yang rutin digunakan untuk kegiatan besar. Menurutnya, Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep melakukan audit teknis dan perbaikan sebelum kegiatan digelar.
“Itu suporter atau penggemarnya bukan cuma orang Sumenep, banyak yang datang dari kabupaten lain di Madura. Ini memalukan, karena seolah-olah pemkab tak siap jadi tuan rumah,” tambahnya.
Dalam peristiwa tersebut, korban meninggal adalah Sueb (60), warga Desa Aeng Merah, Kecamatan Batuputih. Dia sempat mendapat perawatan di RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep, namun dinyatakan meninggal pada pukul 19.40 WIB. Sementara tiga korban lainnya, Aldi (35), Sudahnan (55), dan Ahmad Baidi (40), masih dirawat intensif akibat luka parah seperti patah tulang dan sobek di bagian kaki. (ara/waw)





