KABAR MADURA | Pimpinan Perum Bulog Cabang Madura Ahmad Rofi’i mengungkapkan, penyerapan gabah kering panen (GKP) padi di wilayah Madura telah mencapai lebih dari 100 ton sejak dimulainya serapan pada Maret 2025.
Menurutnya, proses penyerapan gabah yang dilaksanakan bulan lalu, masih tergolong lambat. Sebab, musim panen padi di Madura cukup beragam. Ada sebagian petani telah memulai panen padi sejak Februari, hingga berlangsung pada April 2025.
“Agak terlambat, karena kita masih mempersiapkan semua kebutuhan seperti maklon atau tempat pengolahan gabah,” ungkapnya, Kamis (10/4/2025).
Dari serapan itu, kata Rofi’i, Kabupaten Bangkalan menjadi penyumbang terbesar dibandingkan wilayah lainnya.
Oleh karena itu, Rofi’i menegaskan bahwa Bulog Madura akan terus berkomitmen untuk menyerap gabah dari petani, mengingat sejumlah wilayah di Madura masih berada dalam masa panen. Proses penyerapan dilakukan di empat kabupaten, yaitu Kabupaten Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan.
“Kami belum bisa merincinya, karena sedang kami proses,”tambahnya.
Menurutnya, Bulog Madura tidak menetapkan target khusus dalam penyerapan gabah. Hal itu dikarenakan penyerapan akan disesuaikan dengan kapasitas mitra pengolah gabah yang ada. Jika kapasitas mitra telah penuh, maka penyerapan gabah akan dihentikan sementara.
Sampai saat ini, Rofi’i menyatakan bahwa pihaknya hanya memiliki satu mitra pengolah yang sesuai aturan, dan itu pun masih berpusat di Bangkalan. Oleh karena itu, Bulog Madura tengah berupaya menambah mitra penggilingan di tiga wilayah lainnya.
“Kami kesulitan di bidang mitra penggilingan itu, karena meskipun di Madura ada banyak penggilingan, namun tidak sesuai ketentuan peraturan,” pungkasnya.
Untuk memaksimalkan penyerapan gabah, Bulog Madura terus berkoordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), Babinsa Desa, dan Kodim di masing-masing wilayah. (km62/din)





