KABAR MADURA | Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumenep mengajak serta memaksimalkan pemilih khusus perempuan pada Pilkada Sumenep 2024 ini yang dikemas dengan melaksanakan sosialisasi pada 27 kecamatan dan 334 desa dan kelurahan.
Komisioner KPU Sumenep Divisi Sumber Daya Manusia (SDM) dan Partisipasi Masyarakat Muhlis mengatakan, pemilih dari kalangan perempuan mendominasi dalam pelaksanaan pilkada serentak 2024. Sehingga untuk menggunakan hak suaranya secara mandiri tanpa ada intervensi dari pihak lain.
“Ayo khusus calon pemilih perempuan utamanya kaum ibu-ibu dapat mensukseskan pilkada dengan menjadi pemilih yang cerdas,” katanya, Rabu (20/11/2024).
Menurutnya, peran perempuan penting dan mempunyai kedudukan yang sama dengan kaum laki-laki. Regulasi pun mendukung perempuan untuk terlibat banyak dalam pilkada, baik sebagai penyelenggara, peserta, pemantau, lawan hingga kader partai politik.
“Khusus pemilih perempuan sangat besar kontribusinya untuk menentukan kepala daerah baik bupati maupun gubernur,” paparnya.
Mantan aktivis GP Ansor ini berupaya menerapkan strategi peningkatan representasi perempuan dengan meningkatkan kualitas perempuan melalui pelatihan dan pendidikan, pemahaman dan kesadaran perempuan melalui pendidikan dan pelatihan serta mempertegas keberadaan kelompok perempuan.
“Kami KPU Sumenep mengajak seluruh kaum perempuan agar berani melawan segala bentuk intervensi ketika menggunakan hak suaranya pada pilkada serentak 2024 ini,” kata Muhlis.
Kondisi ini membuat suara kalangan perempuan bisa menjadi faktor penentu dalam pilkada.
Berdasarkan daftar pemilih tetap (DPT) Pilkada Sumenep 2024, kaum perempuan lebih mendominasi, sebanyak 48.015 pemilih. Karena DPT pilkada saat ini terdiri dari 405.585 pemilih laki-laki dan 453.600 pemilih perempuan.
Terdapat kekhawatiran bahwa pemilih dari kalangan perempuan justru menjadi sasaran utama praktik money politics, karena jumlah yang lebih banyak dari pemilih laki-laki.
“Sudah saatnya perempuan berani berbicara, melalui hari pemungutan suara nanti, itulah aplikasi dari suara perempuan sesungguhnya,” kata pria yang pernah mondok di Pesantren Al-Khairiyah Tempurejo, Jember ini. (imd/waw)





