KABAR MADURA | Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang pesimistis mampu mencapai target produksi garam tahun 2025 akibat anomali cuaca yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Cuaca yang tidak menentu, disertai hujan di luar musim, menghambat proses kristalisasi garam dan berdampak langsung terhadap hasil panen petani.
Kepala Bidang (Kabid) Budidaya dan Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sampang M. Mahfud mengatakan, tahun ini produksi garam diperkirakan tidak akan mencapai target seperti tahun sebelumnya.
Padahal, pemerintah sebelumnya menargetkan produksi sebesar 325 ribu ton, namun berdasarkan data terakhir hingga September, capaian produksi baru sekitar 12 ribu ton.
“Kondisi hujan yang sering turun menghambat produksi, akibatnya petani tidak bisa memaksimalkan hasil garam,” katanya, Selasa (11/11/2025).
Mahfud menjelaskan, Pemkab Sampang memiliki 3.200 hektare lahan tambak garam yang tersebar di tujuh kecamatan. Namun, sebagian di antaranya kini telah beralih fungsi menjadi kawasan permukiman.
“Stok saat ini hanya sekitar 42 ribu ton,” imbuhnya.
Sementara itu, salah satu petani garam asal Kecamatan Sampang, Adim, mengungkapkan bahwa kondisi petani garam saat ini cukup sulit, baik dari sisi produktivitas maupun harga jual di pasaran.
“Karena seringnya hujan berakibat pada ketebalan hasil panen garam, sementara harga garam turun dari tahun sebelumnya,” keluhnya.
Dia menambahkan, penurunan harga garam tidak sebanding dengan meningkatnya biaya tenaga kerja di lapangan.
“Kalau tahun sebelumnya biaya angkut per orang sehari Rp150 ribu, sekarang sehari bisa mencapai Rp200 ribu,” tutupnya. (yan/zul)





