KABARMADURA.ID | SAMPANG –Belum lama ini, Kabupaten Sampang memperoleh penghargaan dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) karena berhasil menurunkan angka stunting. Penghargaan itu diterima oleh Wakil Bupati Sampang Abdullah Hidayat.
Diketahui, Kabupaten Sampang berhasil menekan prevalensi balita stunting pada tahun 2022 hingga berada di angka 6,9 persen. Bahkan, Kota Bahari itu berada di urutan kedua sebagai kabupaten kota dengan prevalensi balita stunting terendah di Jawa Timur setelah Surabaya.
Menurut Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dalduk KB) Dinas Kesehatan (Dinkes KB) Sampang Zahruddin, ada beberapa faktor pendukung turunnya prevalensi balita stunting di Kabupaten Sampang. Salah satunya faktor anggaran.
“Dari segi anggaran, pemerintah daerah sudah sangat bagus. Itu tentu sangat mendukung turunnya stunting,” ucapnya.
Zahruddin menuturkan, anggaran untuk program percepatan penurunan prevalensi stunting terbagi ke sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD). Salah satunya di Dinkes KB. Di bidangnya saja, pemerintah mengalokasikan anggaran penanganan stunting tahun ini sekitar Rp2 miliar.
Anggaran itu belum dihitung dengan bidang lain di Dinkes KB. Sebab, kegiatan percepatan penurunan angka stunting tidak hanya berpusat di bidang Dalduk KB. Meski begitu, anggaran tersebut dianggap cukup. Karena itulah, angka stunting di Kabupaten Sampang bisa turun.
“Kita sudah jauh melampaui target nasional. Target nasional itu stunting berada di angka 14 persen. Kita sudah 6,9,” ujar Zahruddin dengan nada optimistis.
Tidak hanya dari segi anggaran, faktor pendukung lainnya, yaitu tenaga sumber daya manusia (SDM). Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang membentuk tim percepatan penurunan prevalensi balita stunting di desa-desa dan kelurahan. Di setiap desa terdapat empat tim.
Masing-masing tim, lanjut Zahruddin, beranggotakan tiga orang. Tim pendamping itu disebut kader KB. Mereka terdiri dari unsur tenaga kesehatan (nakes), anggota Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) dan dari unsur kader KB.
“Mereka yang bekerja keras melakukan penyuluhan ke bawah demi percepatan penurunan prevalensi stunting,” pungkasnya.
Pewarta: Ali Wafa
Redaktur: Moh. Hasanuddin





