KABAR MADURA | Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumenep H. Zainal Arifin mengingatkan pentingnya pelestarian tradisi lokal sebagai bagian dari upaya membangun karakter dan jati diri masyarakat.
Dalam pandangan Zainal, budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan pondasi penting untuk menata masa depan. Menurutnya, ketupat sebagai contoh simbol budaya yang kaya makna. Berangkat dari situ, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep rutin menggelar Festival Kreasi Ketupat setiap tahun pada H+7 Idulfitri.
“Ketupat itu bukan sekadar makanan Lebaran. Di dalamnya terkandung filosofi hidup masyarakat kita,” ujarnya, Rabu (16/4/2025).
Janur kuning yang digunakan sebagai bahan utama ketupat melambangkan harapan akan kehidupan yang tentram, rukun, dan penuh semangat gotong royong. Kata Zainal, nilai-nilai ini sangat relevan dalam memperkuat kehidupan sosial di tengah perkembangan zaman.
Untuk memperkuat nilai-nilai tersebut, cara membuat ketupat menjadi kearifan yang harus lestari. Maka dari itu, pihaknya sangat mendukung dalam Festival Kreasi Ketupat menghadirkan berbagai lomba seperti menganyam, merangkai janur, serta lomba menu kuliner khas berbasis ketupat.
“Kami terus mendukung apalagi itu terkait kelestarian budaya,” imbuhnya.
Politisi PDI Perjuangan itu menyebut, tradisi seperti Lebaran Ketupat memiliki nilai edukatif yang diturunkan lintas generasi. Baginya, tradisi adalah media pendidikan sosial yang mentransmisikan nilai-nilai moral, budaya, dan spiritual dari orang tua ke anak-anak.
Dia juga memberikan apresiasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep yang terus memberi ruang bagi tumbuhnya ekspresi budaya lokal melalui festival seperti ini.
“Pemkab telah menunjukkan komitmen menjaga budaya. Ini adalah bentuk kepedulian yang patut didukung bersama,” pungkasnya. (ara/zul)





