KABAR MADURA | Tahun ini, harga tembakau di Sampang mengalami penurunan drastis hingga 50 persen dibandingkan tahun 2024. Kondisi itu membuat petani kian terpuruk lantaran hasil penjualan tidak sebanding dengan biaya yang telah dikeluarkan sejak masa tanam hingga panen.
Salah seorang petani asal Desa Bapelle, Kecamatan Robatal, Moh Tajab mengungkapkan bahwa ketidakstabilan harga tembakau saat ini sangat memberatkan.
“Tahun lalu harga jual tembakau antara Rp70.000–Rp75.000 ribu per kilogram, namun saat ini pedagang hanya berani membeli paling tinggi Rp35.000 ribu per kilogram ke petani,” katanya, Senin (18/8/2025).
Tajab mengatakan, anjloknya harga membuat petani mengalami kerugian besar. Modal untuk bibit, perawatan, hingga biaya sewa tenaga kerja tidak bisa kembali.
Bahkan, lanjut Tajab, jika tembakau yang dipanen tidak segera dijual, petani masih terbebani biaya tambahan untuk proses rajangan.
“Biaya rajangan untuk menjemur tembakau lumayan besar, belum lagi biaya untuk mengiris tembakau,” keluhnya.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sampang Chandra Ramadhani menyebutkan, saat ini wilayah Sampang tengah dilanda kemarau basah yang berdampak langsung pada sektor pertanian.
“Yang paling terdampak adalah petani tembakau dan garam, karena mereka tidak bisa menjemur hasil panen dengan maksimal,” tandasnya. (yan/din)





