KABAR MADURA | Osteoporosis kerap kali tidak menimbulkan gejala yang cukup nampak seperti penyakit lainnya. Namun, kondisi melemahnya kepadatan tulang ini bisa menyerang siapa saja yang memiliki gaya hidup kurang aktif atau kekurangan asupan nutrisi.
Dokter Umum RSUD Slamet Martodirdjo (SMart) Pamekasan dr. Farida Fahmi Iskandar mengatakan, diagnosa osteoporosis ini bisa dilakukan dengan pemeriksaan khusus, yakni pemeriksaan Bone Mass Density (BMD). Selain itu, juga bisa melalui analisa pola hidup, mulai dari riwayat kesehatan, ataupun pemeriksaan fisik.
“Setelah dilakukan pemeriksaan, nanti diketahui skornya, apakah masuk resiko rendah, sedang, atau tinggi,” terangnya, Rabu (10/12/2025).
Farida menyebut, penanganan terhadap osteoporosis ini harus berdasarkan arahan dari dokter, baik dari jenis obatan-obatan yang akan dikonsumsi hingga terapi yang akan dijalankan selama proses pemulihan.
Dia juga menegaskan, pentingnya perubahan gaya hidup, seperti rutin berolahraga, tidak merokok, tidak mengkonsumsi alkohol, tetap aktif bergerak, dan memenuhi kebutuhan kalsium guna mencegah terjadinya osteoporosis sejak dini.
“Resiko osteoporosis pada lansia sangat tinggi, jadi harus benar-benar dijaga agar tidak sampai jatuh,” tambahnya.
Untuk mencegah osteoporosis, kata dr. Farida, kecukupan vitamin D, kalsium, dan magnesium harus dipastikan tetap terpenuhi. Sebab, menurutnya, setiap orang memiliki tingkat kategori risiko berbeda.
Bahaya dari osteoporosis ini tidak hanya meliputi patah tulang, namun juga menyebabkan peningkatan risiko penyakit jantung sehingga memperburuk gejala osteoporosis.
“Pola hidup yang tidak sehat harus dibuat sehat dan cek kesehatan secara rutin,” tukasnya. (nur/zul)





