Lulusan Ideal FTM dalam Pandangan Praktisi Industri Media

KABAR MADURA | Industri media dan hiburan yang terus bertransformasi secara digital menuntut perubahan kriteria dalam menjaring talenta baru. Menanggapi hal tersebut, praktisi industri media, Hairul Anam, membeberkan profil ideal lulusan jurusan Film, Televisi, dan Media (FTM) yang paling dicari saat ini.

Bukan lagi sekadar mahir mengoperasikan kamera atau menulis naskah, kata Direktur Kabar Madura dan K-TV itu, lulusan FTM masa kini dituntut untuk memiliki kombinasi keahlian yang adaptif dan komprehensif.

“Setidaknya terdapat empat hal yang penting melekati lulusan FTM,” ujar Asesor Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers itu ketika dikonfirmasi saat mengajar sebagai Dosen Praktisi UNIBA Madura, Senin (19/5/2026).

Pertama, ujar Anam, lulusan FTM wajib tangkas beradaptasi dengan teknologi baru semacam Artificial Intelligence (AI) dan virtual production. Dunia produksi visual berkembang sangat pesat. Praktisi industri media tidak lagi hanya mencari mereka yang menguasai teknik editing konvensional.

“Kami mencari kreator yang tidak gagap teknologi. Mereka yang paham cara memanfaatkan AI sebagai tools penunjang kerja, serta akrab dengan teknologi seperti virtual production atau extended reality (XR), akan jauh lebih dilirik,” ujar mantan aktivis Teater Gendewa Universitas Annuqayah itu.

Kedua, ujarnya, memiliki kemampuan multi-platform. Esensi dari film dan televisi adalah cerita. Namun, di era digital, sebuah cerita tidak boleh hanya berhenti di satu layar.

Lulusan FTM yang ideal, imbuhnya, harus mampu mengemas satu ide cerita ke dalam berbagai format medium yang berbeda—mulai dari layar bioskop, serial televisi, konten media sosial (TikTok/Reels), hingga podcast.

“Kemampuan memahami karakteristik audiens di tiap-tiap platform ini menjadi nilai plus yang sangat besar,” kata alumnus Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk itu.

Ketiga, lulusan FTM penting memiliki jiwa entrepreneurship dan memahami bisnis media. Banyak lulusan yang idealis secara seni, namun buta akan industri. Anam menekankan pentingnya pemahaman tentang monetisasi konten, hak kekayaan intelektual (HAKI), distribusi, dan cara kerja algoritma platform digital.

Lulusan FTM yang ideal, tambahnya, ialah mereka yang tahu cara membuat karya yang bagus, sekaligus paham bagaimana karya tersebut bisa menghidupi mereka secara komersial.

“Keempat, jebolan FTM wajib punya soft skills berupa manajemen waktu, kolaborasi, dan resiliensi. Yang terakhir lebih mengarah kepada tahan banting, tidak frustasi ketika dihadapkan pada kegagalan demi kegagalan, pantang menyerah karena sudah bermental baja,” ujarnya.

Baca Juga:  Aktivitas Galian C Palengaan Dinilai Rusak Lingkungan, APH Beri Sinyal Penindakan

Dijelaskan, industri media itu industri berbasis kerja tim dengan tekanan tenggat waktu (deadline) yang tinggi. Oleh karena itu, Anam menempatkan soft skills di posisi yang sangat krusial.

Kolaborasi sendiri mengarah pada kemampuan menurunkan ego untuk bekerja sama dengan berbagai divisi. Sedangkan skill berkomunikasi menjurus pada kejelasan dalam menyampaikan ide (pitching) baik kepada tim maupun klien.

Untuk mencapai profil ideal ini, sebagai praktisi industri media, Anam berharap perguruan tinggi tidak hanya fokus pada teori di dalam kelas. Kurikulum yang berbasis proyek nyata (project-based learning), magang di industri bereputasi, serta dosen tamu dari kalangan profesional aktif menjadi kunci utama agar lulusan tidak mengalami culture shock saat terjun ke dunia kerja.

“Kami tidak lagi melihat IPK sebagai penentu utama. Portofolio yang berbicara, sikap yang adaptif, dan seberapa cepat mereka bisa memecahkan masalah di lapangan—itulah lulusan yang langsung kami rekrut,” tukasnya. (*)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *