KABAR MADURA | Keberadaan Masjid Agung Asy-Syuhada di Pamekasan, tidak pernah lepas dari peran Pangeran Ronggosukowati. Setelah diangkat menjadi raja Pamekasan pada tahun 1530 Masehi, ia mendirikan masjid yang bernama Masegit Rato atau masjid raja.
Ronggosukowati adalah raja pertama Pamekasan yang beragama Islam. Sebab itulah, dirinya mendirikan masjid yang konon hanya muat untuk 40 orang lebih dengan arsitektur yang cukup sederhana.
Seiring berkembangnya waktu, renovasi dan pembinaan terhadap masjid raja itu terus dilakukan hingga menjadi seperti sekarang yang muat 4.000 jamaah. Transformasi Masegit Rato menjadi Masjid Agung Asy-Syuhada memiliki histori yang filosofis.
Konon, pada tahun 1974, masyarakat Madura menolak kembalinya kolonial Belanda. Mereka berjuang mempertahankan wilayah Madura. Para pejuang banyak berguguran dalam perlawanan tersebut dan dikuburkan di depan masjid, lebih tepatnya di area Monumen Arek Lancor.
Kemudian, di tahun 1976, kuburan para pejuang itu dipindah ke makam pahlawan di Jalan Raya Panglegur. Untuk tetap mengenang mereka yang sudah gugur itu, Masegit Rato diubah menjadi Masjid Asy-Syuhada. Hal itu sebagai simbol perlawanan mujahid perang.
Kini, Masjid Agung Asy-Syuhada menjadi pusat kegiatan keislaman , mulai dari mengelola pendidikan berbasis Islam, kegiatan dakwah, hingga sosial. (nur)





