KABAR MADURA | Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis atau MBG di Sumenep kembali menuai sorotan tajam. Kali ini, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Batang-Batang Daya, yang dikelola Yayasan Bakti Bunda Berjaya, diduga mendistribusikan makanan tidak layak konsumsi kepada siswa.
Temuan itu terjadi di lembaga pendidikan yang menerima distribusi MBG dari SPPG yang berlokasi di Dusun Taroman, Desa Batang-Batang Daya, Kecamatan Batang-Batang, Sumenep. Paket makanan yang dibagikan disebut berisi lauk ayam dalam kondisi membusuk, berlendir, dan mengeluarkan bau tidak sedap.
Kondisi tersebut sontak memicu penolakan dari pihak sekolah demi menjaga kesehatan para siswa.
Lebih memprihatinkan lagi, dari ratusan ompreng atau paket makan yang dikirimkan, hanya lima paket yang dinilai masih layak konsumsi. Selebihnya diduga dalam kondisi bermasalah.
Salah satu guru di lembaga penerima manfaat, yang meminta identitasnya dirahasiakan, mengungkapkan bahwa persoalan kualitas makanan dari SPPG tersebut bukan kali pertama terjadi.
“Bukan hanya sekali. Sudah beberapa kali makanan yang datang diduga basi, baunya juga tidak enak,” ujarnya.
Pernyataan itu menimbulkan kekhawatiran serius terhadap standar pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan dalam program yang sejatinya dirancang untuk meningkatkan gizi anak-anak sekolah tersebut.
Program MBG yang semestinya menjadi instrumen negara dalam memperbaiki kualitas nutrisi generasi muda justru terancam kehilangan kepercayaan publik apabila pengawasan terhadap penyedia makanan lemah.
Hingga berita ini ditulis, Kepala SPPG Batang-Batang Daya, Ahmad Zainuddin, belum memberikan klarifikasi. Upaya konfirmasi yang dilakukan berkali-kali oleh wartawan melalui sambungan telepon tidak mendapat respon. (ara/waw)





