KABAR MADURA | Pendapatan asli daerah (PAD) dari GOR Nyalaran Pamekasan tahun ini masih jauh dari target. Hingga akhir Agustus, realisasinya baru mencapai Rp4,1 juta atau 34,17 persen dari target Rp12 juta.
Bendahara Penerimaan Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Pamekasan Maryatul Kiptiyah menjelaskan, rendahnya capaian itu dipicu minimnya peminat. Fasilitas yang rusak, terutama di bagian lantai, membuat masyarakat enggan menyewa meskipun tarif retribusi relatif murah.
“Sekarang sudah jarang ada yang mau sewa. Kalau pun ada, biasanya anak-anak sekolah untuk latihan karena biayanya murah,” jelasnya, Kamis (28/8/2025).
Tarif sewa GOR Nyalaran sendiri dipatok Rp50 ribu pada siang hari dan Rp75 ribu di malam hari. Untuk kegiatan berskala event, biayanya Rp150 ribu di siang hari dan Rp200 ribu pada malam hari. Sayangnya, kata Mar, tahun ini tidak ada alokasi anggaran rehabilitasi untuk memperbaiki fasilitas yang rusak.
Kondisi berbeda terlihat pada fasilitas olahraga lain. Stadion Gelora Madura Ratu Pamellingan (SGMRP), Lapangan Tenis Arek Lancor, dan GOR Teja, justru sudah berhasil mencatatkan PAD di atas 50 persen. Hingga saat ini, PAD Lapangan Tenis Arek Lancor tercatat Rp8,7 juta dari target Rp12 juta, GOR Teja Rp10,15 juta dari target Rp17 juta, dan SGMRP Rp149,67 juta dari target Rp250 juta.
Bahkan, SGMRP diproyeksikan mampu melampaui target. Stadion itu kini menjadi kandang resmi Madura United dalam kompetisi Super League 2025/2026. Setiap pertandingan liga, retribusi yang dipatok mencapai Rp30 juta hingga Rp35 juta.
“Memang ada penurunan dibanding tahun sebelumnya, yang bisa mencapai Rp60 juta hingga Rp65 juta per laga. Tapi tetap, kontribusi dari SGMRP masih sangat besar bagi PAD,” pungkasnya. (nur/zul)





