KABAR MADURA | Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan memperketat pengawasan terhadap penyebaran demam berdarah dengue (DBD). Hingga 28 April 2026, tercatat sebanyak 185 warga terjangkit penyakit tersebut, dengan satu kasus kematian.
Plt. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Pamekasan, Avira Sulistyowati, melalui Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM), Fathor Rahman, menyampaikan bahwa meskipun jumlah kasus lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2025, kewaspadaan masyarakat tetap harus ditingkatkan.
“Data menunjukkan bahwa usia anak-anak menjadi yang paling rentan terpapar. Dari total 185 kasus, tren tertinggi ditemukan pada rentang usia 5–14 tahun,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Ia merinci, kasus DBD pada usia di bawah 1 tahun sebanyak 6 orang, usia 1–4 tahun sebanyak 28 orang, usia 5–14 tahun sebanyak 83 orang, usia 15–44 tahun sebanyak 49 orang, dan usia di atas 45 tahun sebanyak 18 orang.
Fathor mengimbau para orang tua untuk lebih waspada terhadap gejala DBD pada anak. Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain demam tinggi yang tidak kunjung turun, sakit kepala, ruam kulit, mual, muntah, nyeri sendi, hingga mimisan.
“Harus waspada, gejanya itu mengalami demam yang tidak turun meski sudah di obati dengan obat penurun panas, sakit kepala, kemudian ruam pada kulit, dan mual kemudian muntah, sakit persendian dan bahkan mimisan,” lanjutnya.
Berdasarkan sebaran wilayah, kasus tertinggi tercatat di wilayah kerja Puskesmas Sopaah sebanyak 28 kasus, disusul Puskesmas Kadur sebanyak 24 kasus, dan Puskesmas Teja sebanyak 17 kasus. Sementara itu, wilayah Pegantenan, Tampojung Pregi, dan Batumarmar masih melaporkan nol kasus.
Terkait pencegahan, Fathor menjelaskan bahwa imunisasi DBD belum masuk dalam program nasional sehingga belum tersedia secara gratis di puskesmas. Masyarakat yang ingin mendapatkan vaksin harus mengaksesnya secara mandiri di fasilitas kesehatan swasta.
Ia menegaskan, langkah utama pengendalian DBD saat ini adalah melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan gerakan 3M Plus, yakni menguras, menutup, dan memanfaatkan kembali barang bekas, serta langkah tambahan lainnya.
“Oleh karena itu, kunci utama pengendalian DBD saat ini adalah melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan gerakan 3M Plus. Penyakit ini bisa dikendalikan jika vektornya, yaitu nyamuk Aedes aegypti, kita kendalikan bersama. Kami sangat mengharapkan keterlibatan aktif masyarakat,” jelasnya.
Pemkab Pamekasan juga telah menyiapkan langkah antisipasi jika terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB), di antaranya melalui penanganan cepat di fasilitas kesehatan, pelaporan berjenjang melalui aplikasi, hingga penyelidikan epidemiologi oleh tim Dinkes dan puskesmas.
Selain itu, penguatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) terus dilakukan melalui surat edaran Bupati dan Sekretaris Daerah tentang gerakan PSN 3M Plus yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.
“Pemerintah berharap dengan budaya hidup bersih dan rutin melakukan PSN, perkembangbiakan nyamuk dapat ditekan sehingga angka kasus di Pamekasan tidak terus bertambah,” pungkasnya. (km96/waw)





