KABAR MADURA | Masyarakat berduyun-duyun mengunjungi Makam Ronggosukowati yang berada di Kelurahan Kolpajung, Pamekasan, terutama di bulan-bulan tertentu. Seperti ketika bulan Ramadan seperti sekarang, hari Asyura, dan momen tertentu lain. Tujuannya, untuk ngalap barokah dari Raja Kota Pamellingan yang dikenal wali Allah. Peziarah tidak hanya berasal dari penduduk lokal, melainkan juga dari berbagai penjuru kota.
SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN
Sejarah panjang Makam Ronggosukowati tidak pernah lepas dari Raden Arya Sena, nama asli Raja Ronggosukowati sebelum dirinya berguru kepada Sunan Giri. Selama mengenyam ilmu dari sang sunan, putra dari Raden Ponorogo itu dikenal dengan sosok yang rendah hati dan pengayom, maka oleh sang guru, dia dijuluki Ronggosukowati.
Pada tahun 1527 Ronggosukowati mendapatkan titah dari sang ayah untuk menjadi raja dan memimpin di Pamekasan. Selama kepemimpinannya, Raja Ronggosukowati unggul di sektor perkebunan, cocok tanam, perikanan, hingga tata niaga. Konon, dia dikenal sebagai raja yang berhasil menaklukkan saudagar luar.
“Salah satu keberhasilannya selama memimpin adalah menaklukkan Raja Bali. Nah, pada 1630, karena sudah sepuh dan tidak memungkinkan memimpin, kerajaan diserahkan kepada anaknya, yang bernama Raden Purboyo. Pada 1632, Ronggosukowati meninggal,” jelas Juru Kunci Makam Raja Ronggosukowati Masriyadi, Minggu (17/3/2024).
Dia menuturkan, Pasarean Panembahan Ronggosukowati itu banyak didatangi warga lokal maupun dari luar daerah, terutama di bulan-bulan tertentu. Tujuannya, untuk ngalap barokah. Sebab, kata Aba Yadik, sapaan akrabnya, Ronggosukowati tidak hanya dikenal sebagai raja, melainkan juga sebagai wali Allah. Berbagai macam latar belakang peziarah datang berkunjung. Mulai dari masyarakat biasa hingga pejabat lokal ataupun pejabat luar daerah.
Di hari biasa, para peziarah tidak sampai seratus orang. Namun, ketika bulan puasa seperti sekarang, pengunjung bisa capai seratus atau bahkan lebih dalam sehari. Terlebih ketika hampir hari raya.
Uniknya, peziarah makam tidak hanya datang dari masyarakat yang tampak nyata dengan mata saja. Namun, peziarah ‘gaib’ juga tidak absen berkunjung ke makam raja penyebar agama Islam di Pamekasan tersebut, seperti Sunan Giri, Sunan Ampel, Ratu Pantai Selatan, dan lain-lain.
Meski tampak fiktif dan sulit dipercaya, lanjut Aba Yadik, pengunjung gaib itu benar adanya. Sebagai juru kunci makam yang sudah bertahun-tahun, dirinya kerap kali mengalami hal-hal mistis di area makam tersebut.
Menurut Aba Yadik, banyak hal yang bisa dicontoh dari kepemimpinan Raja Ronggosukowati, yakni kebesaran hatinya dan sifat pengayomannya terhadap masyarakat, tanpa melihat latar belakang agama dan sosial.
“Musim-musim pemilihan dewan, bupati, pengangkatan ASN, atau apapun itu, biasanya para pejabat datang ke sini. Tapi biasanya datang pas malam hari, karena sepi pengawalan. Beberapa bulan lalu, Gibran putra Jokowi juga sempat ke sini malam-malam,” paparnya.
Redaktur: Sule Sulaiman





