KABAR MADURA | Data keanggotaan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sumenep mebutuhkan pembaharuan. Alasannya, masih banyak anggota yang tidak aktif masuk dalam data keanggotaam.
“Karena data masih tidak di-update, maka PGRI Sumenep masih memiliki utang pada PGRI pusat senilai Rp93 juta, iuran setiap bulannya tidak terbayar,” kata PAW Ketua PGRI Sumenep, Anwari Minggu (21/1/2024).
Setiap anggota PGRI wajib membayar Rp6.000 dalam setiap bulannya. Kerena banyak yang tidak aktif, maka iuran tidak terbayarkan. Harapnnya, tahun ini ada update data, sehingga keanggotaan jelas dan dapat membayar iuran semua.
“Ada sebanyak 4.000 lebih anggota PGRI, namun masih banyak yang tidak aktif,” ucap dia.
Sedangkan yang tidak aktif sekitar 1.200 ribu guru. Saat ini anggota yang diperkirakan aktif sekitar 2.800 orang. Data anggota aktif itu juga masih perlu diperbaharui lagi, karena sebagian ada yang sudah pensiun.
Kepesertaaan PGRI itu hanya guru yang mengajar di sekolah negeri. Saat ini masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang perlu diselesaikan, seperti banyaknya guru yang tidak berstatus aparatur sipil negara (ASN). Terdapat sekitar 600 guru tidak tetap (GTT) atau guru honorer dari keanggotaan itu.
“Ini perlu juga menjadi evaluasi bagi kami, karena pengabdiannya sudah bertahun-tahun di Sumenep,” tutur Anwari mengenai keinginannya guru honorer itu diangkat menjadi ASN.
Dalam pembaharuan data itu, saat ini sangat mudah, karena menggunakan aplikasi NewSIK (Sistem Informasi Keanggotaan). Dengan adanya sistem aplikasi baru tersebut, setiap pengurus PGRI cabang dapat selalu melakukan update data setiap kali ada perubahan keanggotaan yang pensiun, meninggal, dan masuk atau keluar dari PGRI.
“Dalam menggunakan sistem aplikasi manajemen kepengurusan dan keanggotaan yakni NewSIK yang endingnya dapat diperolehnya data keanggotaan PGRI yang benar-benar valid, ini sedang kami lakukan saat ini,” kata Anwari itu.
Pewarta: Imam Mahdi
Redaktur: Wawan A. Husna





