Sambung Hidup melalui Musik, Seorang Tunanetra di Pamekasan Berhasil Aransemen 10 Lagu Bahasa Madura

News188 views

KABARMADURA.ID | Terlahir sebagai tunanetra tidak membuat Imron Wicaksono bergerak di tempat. Dia memilih berkelana ke berbagai daerah dengan karyanya. Pria asal Desa Buddih, Kecamatan Pademawu itu memang tidak bisa melihat apa-apa. Namun, musikalitas yang dimiliki cukup tinggi. Dirinya karib dengan musik sejak kecil.

SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN

Kecintaannya terhadap musik bermula dari sang keluarga yang selalu memutar lagu di rumahnya. Kebiasaan tersebut, membuat pria yang karib disapa Bobon menyeretnya menyukai musik. Saat umur 8 tahun, Bobon kecil belajar alat musik secara perlahan. Tidak mudah memang, sebab dia hanya bisa mengandalkan indra peraba tanpa melihat.

Mulai dari gitar hingga piano, dia pelajari dengan bimbingan dari kakak-kakak dan keluarganya. Bertahun-tahun Bobon berproses untuk bisa memainkan alat musik tersebut. Hoki berpihak padanya, bungsu dari lima bersaudara itu berhasil menjadi pemusik yang digandrungi masyarakat.

Baca Juga:  Bahasa Madura Diusulkan Jadi Prodi Resmi, Mendikdasmen Beri Sinyal Dukungan

“Berbagai macam genre bisa, mulai dari dangdut, pop, lagu islami, dan lainnya. Tergantung dari pesanan yang punya acara maunya seperti apa,” jelasnya saat ditemui Kabar Madura, Kamis (16/11/2023).

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Kini, guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) Bugih itu banjir job perform di berbagai acara. Karirnya tidak hanya melejit di Pamekasan, namun di beberapa daerah nama Bobon menjadi favorit. Seperti di Sidoarjo, Surabaya, dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, Bobon juga berhasil mengaransemen 10 lagu Bahasa Madura dalam satu album.

Baca Juga:  Saatnya Bahasa Madura Mendapat Rumah Akademik

Hebatnya, mental Bobon cukup kuat menghadapi cemooh dari masyarakat sekitar. Dia sama sekali tidak merasa minder ataupun putus asa terlahir sebagai tunanetra. Sebab bagi bapak satu anak itu, tidak ada batasan berkarya untuk kaum disabilitas. Semuanya berhak bergerak dan berdampak.

Pria kelahiran 22 Mei 1988 itu mengaku, melalui karirnya di musik, dia bisa menyambung hidup tanpa menyusahkan orang lain. Bahkan, dirinya berhasil menghidupi anak dan istrinya dengan bermusik.

“Terpenting feeling ketika bermusik harus ‘main’ kalau seperti saya, karena tidak bisa melihat. Ingin menunjukkan disabilitas juga bisa berkarya dan berdampak,” ungkapnya.

Redaktur: Sule Sulaiman

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *