KABAR MADURA | Pada musim hujan ini, sejumlah bencana mulai mengancam Sumenep. Sepanjang musim hujan di akhir tahun 2024 ini, sudah terjadi empat bencana di Sumenep, baik di daratan maupun kepulauan.
“Memang harus waspada pada musim hujan ini, apalagi pada puncak musim hujan,” kata Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik (KL) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep Akh. Taufik, Minggu (15/12/2024).
BPBD Sumenep mencatat, selama musim hujan ini di Sumenep sudah ada empat bencana, yakni banjir di Kecamatan Arjasa, hantaman ombak di Ambunten yang mengakibatkan tiga rumah roboh dan kecelakaan laut, kemudian sambaran petir di Desa Pagerungan Besar, Kecamatan Sapeken yang mengakibatkan pasangan suami istri jadi korban, serta terjadinya banjir/genangan di Desa Gersik Putih,m Kecamatan Gapura.
Taufik juga mengatakan, dari empat bencana itu, masih ada satu bencana, yakni korban banjir rob di Desa Gersik Putih, Kecamatan Gapura, yang belum diberikan bantuan.
“Paling tidak, besok atau lusa akan dilakukan survei, setelah itu akan diberikan bantuan. Jadi, masyarakat Sumenep lebih waspada ya,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumenep Usman Khalid menginformasikan bahwa puncak musim hujan memang terjadi sejak 1 Desember 2024 hingga Januari 2025 di Sumenep, jadi saat ini masyarakat diimbau untuk waspada.
“Apalagi saat ini sudah banyak bencana pada saat musim hujan. Masyarakat Sumenep harus lebih waspada lagi ya,” bebernya.
Warga Kampung Tapakerbau, Desa Gersik Putih, Kecamatan Gapura, Sumenep Siddik juga meminta perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep untuk segera ada bantuan, dia meminta perhatian serius berupa solusi jangka panjang.
“Saya juga meminta perhatian kepala BPBD Sumenep dan stakeholder terkait agar warga diberikan solusi supaya tidak selalu terkena dampak banjir, atau diberikan bantuan setiap tahunnya,” ucap dia. (imd/waw)





