Sejak Kecil Dibekali Cerita Ulama NU, Mantapkan Langkah Kiai Muchlis Jadi Pj. Ketua PCNU Pamekasan

Harmoni2,661 views

KABAR MADURA | Cerita tentang tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU) begitu melekat dalam diri Kiai Muchlis Nasir, Pj. ketua PCNU Pamekasan periode 2021–2026. Bagi Kiai Muchlis, kisah-kisah tentang kegigihan dan ketangguhan para ulama NU bukan sekadar cerita biasa. Setiap fragmen perjalanan hidup mereka selalu memberi makna dan hikmah yang dia jadikan pegangan hingga hari ini.

SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN

Dalam hidup Kiai Muchlis, kisah para ulama NU bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Sejak kecil, cerita tentang KH. Hasyim Asy’ari dan Gus Dur telah tertanam dalam benaknya. Bukan sebagai kisah masa lalu, melainkan sebagai sumber semangat yang membentuk jati dirinya hari ini.

Kiai muda ini tumbuh besar dalam lingkungan yang penuh dengan narasi perjuangan ulama NU. Orang tuanya menuturkan kisah-kisah keteladanan para ulama dengan penuh rasa, seolah ingin mewariskan nilai-nilai kegigihan dan ketangguhan itu secara turun-temurun. Maka tidak heran, sedari kecil, Kiai Muchlis sudah mengenal NU bukan hanya sebagai organisasi, melainkan sebagai identitas.

Baca Juga:  Prabowo Sebut Kebocoran Uang Negara Capai Rp15 Ribu Triliun di Munas NU

“Bisa dibilang, masuknya saya ke NU karena termotivasi dari cerita KH. Hasyim Asy’ari dan Gus Dur, terutama tentang kegigihan dan ketangguhan beliau,” cerita Kiai Muchlis kepada Kabar Madura, Selasa (22/7/2025).

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Kiai Muchlis kian akrab dengan NU saat mondok di Pesantren Sidogiri. Namun, pemahaman mendalam tentang NU baru benar-benar dia rasakan saat kuliah di IAIN Surabaya, kala dirinya aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

“Ketika mondok di Sidogiri, cerita tentang KH. Hasyim Asy’ari juga diselipkan sama kiai di sela-sela ketika baca kitab, dan itu membuat saya lebih tertarik lagi. Ketika kuliah, masuk PMII dan di situ mulai mengetahui secara utuh makna NU itu apa. Kalau dulu-dulunya hanya sebatas tahu aja,” ungkapnya.

NU, baginya, bukan lagi sekadar nama besar, melainkan cara berpikir dan bergerak. NU adalah Ahlussunnah Waljamaah yang hidup dalam nadi kehidupan.

Baca Juga:  Kuota Sekolah Rakyat di Sumenep Masih Minim, Baru 38 Siswa Terdaftar

Dengan bekal pengalaman, termasuk sebagai ketua MWC NU Palengaan (2016) dan sekretaris Aswaja NU Center Pamekasan (2016), kini Kiai Muchlis dipercaya mengemban amanah sebagai Pj. ketua PCNU Pamekasan, menggantikan almarhum KH. Taufik Hasyim. Sebuah tanggung jawab besar, yang dia sambut dengan tekad penuh.

Kiai Muchlis berkomitmen akan maksimal dalam mengemban amanahnya tersebut, mulai dari koordinasi hingga mengakomodir para penggerak NU di seluruh kecamatan di Pamekasan, hingga menjadi guyub. Dia juga ingin memastikan bahwa semangat para ulama terdahulu tetap menyala dalam gerakan NU hari ini.

“NU mengajarkan kita untuk memahami, menjaga agama, dan semangat menjaga negara. Itu yang tidak boleh dilupakan oleh anak muda,” tegasnya. (zul)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *