Sekolah Lapang DKPP Sumenep, Transfer Ilmu dari Hulu ke Hilir

Berita, Pertanian99 views

KABAR MADURA | Dalam rangka mendukung peningkatan hasil pertanian sekaligus mewujudkan ketahanan pangan nasional, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep terus mengoptimalkan program Sekolah Lapang (SL). 

Program ini digelar sebagai upaya transfer pengetahuan secara langsung kepada para petani, mulai dari tahapan persiapan budidaya, proses penanaman, perawatan, hingga panen.

Program Sekolah Lapang ini menyasar petani di berbagai kecamatan di Sumenep dengan fokus pada komoditas tanaman pangan dan hortikultura, sesuai dengan arahan pemerintah pusat dalam meningkatkan produksi pertanian lokal dan nasional. 

Menurut Kepala Bidang Penyuluhan DKPP Sumenep Rusnani, pelaksanaan Sekolah Lapang dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Tahap pertama diawali dengan sosialisasi kepada kelompok tani yang menjadi sasaran kegiatan. Sosialisasi ini bertujuan memberikan pemahaman awal terkait pentingnya penerapan teknologi tepat guna dan praktik pertanian modern. 

Kabid Penyuluhan DKPP Sumenep Rusnani

“Di awal kegiatan, kami melakukan pendekatan lewat sosialisasi langsung. Kami hadir di tengah-tengah petani untuk mendengarkan kebutuhan mereka dan menjelaskan tujuan dari Sekolah Lapang. Ini bukan program formalitas, tapi benar-benar untuk menjawab tantangan petani di lapangan,” terang Rusnani, saat diwawancarai. 

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Tahap berikutnya adalah proses diskusi atau rembuk tani yang melibatkan petani lokal, penyuluh pertanian, dan narasumber dari DKPP dan pihak kompeten lainnya. 

Dalam sesi ini, petani diberi ruang untuk menyampaikan kendala-kendala yang dihadapi, serta berdiskusi bersama dalam mencari solusi. Metode ini terbukti efektif dalam memperkuat semangat gotong royong dan kolaborasi antarpetani. 

“Diskusi itu penting karena bisa menjadi media saling belajar. Petani yang sudah berpengalaman bisa berbagi, dan petani baru bisa mendapatkan pemahaman secara praktis. Bahkan dari situ sering muncul inovasi lokal yang bisa dikembangkan lebih lanjut,” tambah Rusnani. 

Puncaknya adalah kegiatan praktik lapangan, di mana para petani diajak untuk terlibat langsung dalam proses budidaya. Mulai dari cara mengolah tanah yang baik, pemilihan bibit unggul, penggunaan pupuk organik, pengendalian hama terpadu, hingga strategi panen dan pascapanen yang efisien. Semua materi ini diberikan dengan pendekatan aplikatif dan mudah diterapkan oleh petani di lahan masing-masing. 

Rusnani menegaskan, Sekolah Lapang bukan hanya ajang pelatihan biasa, melainkan menjadi sarana transfer ilmu berantai, di mana petani yang telah mengikuti pelatihan diharapkan mampu menularkan pengetahuan dan keterampilan tersebut kepada petani lain di desanya. 

“Dengan begitu, dampaknya akan lebih luas. Tidak hanya satu atau dua petani yang merasakan manfaat, tapi seluruh komunitas pertanian di wilayah tersebut bisa berkembang bersama,” ujarnya. 

Program ini juga dinilai sebagai bagian dari strategi DKPP untuk menciptakan petani mandiri dan adaptif terhadap perubahan zaman, terutama dalam menghadapi tantangan iklim, harga pupuk, dan fluktuasi pasar. 

Melalui Sekolah Lapang, para petani didorong untuk tidak hanya mengandalkan cara-cara tradisional, tetapi juga terbuka terhadap inovasi dan pendekatan baru yang lebih produktif dan berkelanjutan. 

“Semangat kami adalah membangun pertanian dari bawah, dari petani langsung. Kalau petaninya kuat, maka ketahanan pangan daerah juga akan kuat. Dan ini akan menjadi kontribusi besar bagi ketahanan pangan nasional,” pungkas Rusnani. (ara/waw)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *