KABAR MADURA | Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan mencatat sebanyak 235 orang terdiagnosis HIV/AIDS dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Data itu menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk terus meningkatkan kesadaran terhadap bahaya penyakit menular tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan Nunuk Kristanti mengatakan, dalam tiga tahun terakhir jumlah kasus baru tercatat fluktuatif namun cenderung menurun. Pada 2023 terdapat 84 kasus, tahun 2024 85 kasus, dan pada 2025 tercatat 66 kasus baru.
“Memang trennya menurun, akan tetapi juga perlu kesadaran bersama terkait bahayanya HIV,” ungkapnya, Jumat (20/2/2026).
Menurut Nunuk, mayoritas penyandang HIV/AIDS di Bangkalan merupakan laki-laki usia produktif. Kondisi itu menjadi perhatian tersendiri karena kelompok usia itu berada pada fase aktif bekerja dan berinteraksi sosial.
HIV merupakan virus yang menyerang dan melemahkan sistem kekebalan tubuh dengan merusak sel darah putih. Ketika daya tahan tubuh menurun, penderita menjadi lebih rentan terhadap berbagai infeksi dan penyakit lainnya.
Biasanya, kata Nunuk, penularan terjadi ketika ada interaksi yang menimbulkan terjadinya pertukaran cairan dari seseorang yang sebelumnya sudah terinfeksi.
“Penyebabnya bisa karena memakai alat suntik berulang, hubungan seks, atau aktivitas lainnya yang memungkinkan terjadinya pertukaran cairan ya,” jelasnya.
Untuk menekan angka penularan dan meningkatkan deteksi dini, Dinkes Bangkalan telah menyediakan layanan tes HIV di sejumlah fasilitas kesehatan. Saat ini, layanan pemeriksaan tersedia di dua rumah sakit dan 12 puskesmas.
Selain pemeriksaan, pemerintah daerah juga menyiapkan layanan terapi antiretroviral (ARV) bagi penyandang HIV.
“Ada 14 yang bisa melayani terapi ARV di antaranya dua rumah sakit dan 12 puskesmas,” terangnya.
Nunuk menegaskan, HIV merupakan penyakit menular yang memerlukan kesadaran kolektif dalam pencegahan maupun penanganannya. Dia juga mengingatkan pentingnya menghilangkan stigma terhadap penyandang HIV/AIDS agar mereka tidak merasa dikucilkan.
“Kemudian HIV seharusnya bukan penyakit tabu di masyarakat. Banyaknya stigma di masyarakat dan masyarakat masih belum membuka diri untuk pemeriksaan HIV on the spot,” pungkasnya. (km95/zul)





