KABAR MADURA | Kasus campak di Pamekasan pada triwulan pertama 2026 ini mulai menunjukkan tren penurunan dibandingkan akhir 2025 lalu yang sempat memprihatinkan. Pada tahun ini tercatat sebanyak 31 anak masuk kategori suspek campak dan tidak ada laporan kasus meninggal dunia.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan Avira Sulistyowati menyampaikan, penurunan kasus itu tidak lepas dari upaya imunisasi yang terus digencarkan oleh pemerintah. Meski demikian, masyarakat tetap diminta untuk meningkatkan kewaspadaan dengan rutin memantau kondisi kesehatan anak.
“Meskipun tidak ada lonjakan kasus suspek campak seperti pada 2025 kemarin, tetapi kita harus tetap waspada dengan tetap rutin melakukan pengecekan,” ujarnya kepada Kabar Madura, Kamis (12/3/2026).
Berdasarkan data terbaru Dinkes Pamekasan, sebanyak 31 kasus suspek campak yang tercatat pada 2026 tersebar di beberapa kecamatan. Rinciannya yakni Kecamatan Galis dua kasus, Larangan dua kasus, Pegantenan dua kasus, Batumarmar empat kasus, Kadur satu kasus, Tlanakan lima kasus, Pademawu tujuh kasus, Pamekasan tiga kasus, serta Proppo lima kasus.
Avira menjelaskan, kelompok yang paling berisiko terpapar campak adalah anak usia sekolah dasar (SD) dan anak berusia sekitar 9 tahun.
Pada tahun 2025 lalu, kasus suspek campak tercatat cukup tinggi yakni mencapai 1.250 kasus, dengan 663 kasus atau sekitar 53 persen terjadi pada kelompok usia 1–4 tahun.
Gejala campak sendiri umumnya ditandai dengan demam tinggi, batuk kering, pilek, serta munculnya ruam atau bintik merah yang biasanya bermula dari wajah lalu menyebar ke seluruh tubuh.
Sebab itu, pihaknya mengimbau para orang tua untuk memastikan anak telah mendapatkan imunisasi campak Measles Rubella (MR) agar memiliki kekebalan terhadap virus tersebut.
Selain imunisasi, masyarakat juga diminta untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Di antaranya dengan memakai masker saat sakit, menerapkan etika batuk, serta membiasakan mencuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas di luar rumah, sebelum makan, dan setelah memegang bayi atau anak.
“Orang tua yang mempunyai bayi dan anak agar memastikan kelengkapan imunisasi putra dan putri agar ada kekebalan terhadap virus Campak,” terangnya.
Sebagai langkah pencegahan tambahan, Dinkes Pamekasan juga akan melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi tambahan secara serentak di empat puskesmas yang belum melaksanakannya pada tahun 2025, yakni Puskesmas Teja, Pakong, Palengaan, dan Talang. (km96/zul)






