KABAR MADURA | Rusaknya pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di Pulau Masalembu juga berdampak pada perekonomian masyarakat di tingkat desa. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep diminta mencari alternatif.
Salah satu masyarakat Masalembu Khairuddin menyatakan bahwa memang sejak PLTD itu tidak berfungsi, sekitar 4 tahun lalu, memang berdampak pada perekonomian masyarakat sekitar.
“Misalnya untuk pendingin ikan itu, harus menggunakan diesel sendiri, itu biayanya lebih mahal, sehingga berpengaruh pada harga jual, itu maksud dari berdampak kepada perekonomian masyarakat. Tidak hanya usaha itu yang membutuhkan listrik saja,” kata Khairudin.
Khairudin ingin sudah ada solusi alternatif demi memberikan perhatian terhadap perekonomian masyarakat sekitar, yang dapat menyalakan listrik meski tidak menyala selama 24 jam.
“Ya yang rusak PLTD itu kalau tidak diperbaiki harus ada solusi lain,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Sumenep Anwar Syahroni mengakui bahwa tahun ini memang tidak ada program yang didanai oleh anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).
“Karena penerangan di setiap pulau itu sudah dipasrahkan ke PLN, termasuk di Masalembu dan Gili Raja, Kecamatan Giligenting,” jawabnya.
Untuk memanfaatkan PLTD, DPMD Sumenep sudah tidak mempunyai kemampuan anggaran untuk melakukan perbaikan. Sehingga tetap dibiarkan terbengkalai hingga sejak tahun 2020 ini.
Selain itu, PLTD itu sudah tidak ada pengelolanya. Sehingga DPMD sudah menyerah untuk kembali memanfaatkan itu. Apalagi berhubungan dengan biaya yang juga cukup besar untuk perawatan beserta teknisinya.
“Tahun ini kami tidak bisa memastikan ada solusi alternatif untuk bisa menyala listrik di Masalembu,” pungkasnya.
Pewarta: Moh. Razin
Redaktur: Wawan A. Husna





