KABAR MADURA | Memasuki peralihan menuju musim penghujan, kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Sumenep mencapai 178 kasus, yang disebabkan oleh penularan virus dengue melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti.
Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep drg. Eliya Fardasah melalui Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Achmad Syamsuri mengingatkan, agar masyarakat Sumenep mewaspadai DBD dan penyakit lainnya yang rentan muncul saat musim penghujan.
“Kepada masyarakat Sumenep, waspada DBD, ya,” katanya, Senin (10/2/2024).
Dia menyebutkan, penyakit DBD lebih banyak menyerang anak-anak karena daya tahan tubuh mereka yang relatif rentan. Rata-rata usia 15-44 tahun.
Syamsuri menjelaskan, dari 30 pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) di Sumenep, hanya lima puskesmas yang sampai saat ini tidak ada pasien DBD.
Lima puskesmas itu, yakni Puskesmas Giligenting, Nonggunong, Raas, Arjasa, dan puskesmas Arjasa. Sementara, 25 puskesmas lainnya terdapat pasien DBD. Pasien DBD tertinggi di Puskesmas Kalianget, yakni 22 orang.
“Selama ini kami telah melakukan pengasapan (fogging) dan pemberian abate. Sementara untuk pencegahan, dilakukan penyuluhan, pemeriksaan jentik nyamuk,” bebernya.
Sementara itu, Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumenep M. Ramzi meminta, agar organisasi perangkat daerah (OPD) teknis dalam melakukan pencegahan BDB harus serius.
Sebab, lanjut Ramzi, kasus DBD di Kota Keris masih tergolong tinggi. Pada 2024, DBD mencapai 1.323 kasus dengan angka kematian sebanyak 10 orang.
“Hal ini tentu menjadi evaluasi ke depannya. Artinya, bukan hanya menghimbau waspada pada masyarakat. Namun, pencegahan juga perlu dilakukan,” terangnya. (imd/din)





