KABAR MADURA | Selain Kelurahan Patemon, dua desa di Pamekasan juga dianugerahi penghargaan program kampung iklim (proklim) utama, yakni Desa Samatan, Kecamatan Proppo dan Desa Durbuk, Kecamatan Pademawu. Anugerah tersebut didapat setelah dilakukan verifikasi lapangan (verlap) beberapa waktu lalu oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI.
Penyuluh Lingkungan Hidup Ahli Muda Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pamekasan M. Selamet Djauhari mengatakan, kedua desa itu memiliki inovasi dan fokus tersendiri dalam menciptakan lingkungan yang sesuai dengan standar proklim, seperti di Desa Durbuk, penenakannya adalah kampung asri. Inovasinya, mulai dari pengelolaan sampah, kreativitas kader lingkungan setempat, dan inovasi lingkungan lainnya. Sementara di Desa Samatan, fokus penekanannya adalah peternakan terintegrasi pertanian.
“Hasil dari kotoran ternak itu diolah menjadi kompos ramah lingkungan, dari segi pengelolaan ataupun pemanfaatannya. Begitupun dengan pertaniannya, bisa dijadikan pakan ternak,” ungkapnya kepada Kabar Madura, Minggu (11/8/2024).
Selamet berharap, dengan diraihnya penghargaan proklim di sejumlah desa itu, bisa menjadi motivasi bagi desa atau kelurahan lainnya untuk menciptakan lingkungan yang asri.
Dia menyebut, di Kabupaten Gerbang Salam ini, sudah ada empat desa dan satu kelurahan yang dikategorikan sebagai proklim, yakni Desa Murtajih, Bugih, Durbuk, Samatan, dan Kelurahan Patemon. Nantinya, lanjut Selamet, desa atau kelurahan itu diharapkan bisa membina atau mendampingi desa-desa dan kelurahan lainnya untuk berkembang.
“Yang kami usulkan memang dua desa dan satu kelurahan. Alhamdulillah, lolos proklim utama semua. Desa Durbuk dan Samatan dapat penghargaan sertifikat, kalau Kelurahan Patemon dapat tropi, dan itu satu-satunya sekaligus yang pertama di Madura,” paparnya.
Saat ini, DLH Pamekasan melakukan sosialisasi kepada empat kecamatan. Targetnya, agar bisa membina desa dan kelurahan lain yang nantinya akan diusulkan di proklim selanjutnya.
“Proklim ini ada verlap penilaiannya. Jadi tidak bisa instan,” tutupnya.
Pewarta: Safira Nur Laily
Redaktur: Sule Sulaiman





