KABAR MADURA | Belasan sekolah dasar negeri (SDN) di Sumenep yang rencananya akan digabung dengan sekolah lain masih menunggu hingga akhir tahun. Hal itu membuat Anggota Komisi IV DPRD Sumenep Samioeddin menilai ada yang kurang serius.
Sebab, menurut politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sumenep itu, rencana itu sudah lama, sekitar tiga tahun yang lalu. Tetapi hingga saat ini belum terwujud.
“Kalau itu menyangkut kebaikan-kebaikan kepada marwah pendidikan di Sumenep kenapa tidak disegerakan, kan itu sudah lama diwacanakan,” kata dia.
Pria yang kembali terpilih sebagai anggota DPRD Sumenep periode 2024-2029 ini juga berharap, penggabungan sekolah tidak ideal terhadap yang ideal sangat perlu untuk dilakukan. Yang terpenting semua tahapan sesuai ketentuan.
“Saya kira tidak ada penghambatnya, kenapa tidak disegerakan saja,” imbuhnya.
Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SD Dinas Pendidikan (Disdik) Sumenep Ardiansyah Ali Sobich menyampaikan bahwa prosesnya cukup alot, misalnya untuk merampungkan keberadaan aset-asetnya.
“Merekap aset terlebih dahulu nantinya, kalau nama-nama sekolahnya sudah ada,” papar Ali.
Dia juga menjelaskan bahwa belasan sekolah tersebut dipaksa gulung tikar lantaran jumlah siswa yang sangat sedikit, bahkan sebagian tidak sampai 10 orang. Disebutkan juga, dari sebelumnya jumlah sekolah dasar di bawah naungan instansinya sebanyak 661 sekolah, kini berjumlah 634 sekolah.
“Itu dilakukan demi efektivitas dan efisiensi, namun tetap mempertimbangkan layanan pendidikan di masing-masing desa,” imbuhnya.
Meski ada penggabungan, layanan pendidikan dasar di daerah sekolah tersebut dipastikan tidak terganggu. Sebab, siswa-siswinya langsung dipindahkan ke sekolah dasar terdekat.
“Insya Allah akhir tahun rampung nantinya,” pungkasnya.
Pewarta: Moh. Razin
Redaktur: Wawan A. Husna





