KABAR MADURA| Realisasi pelatihan kerja di Pamekasan belum berdampak signifikan. Indikasinya tidak semua peserta pelatihan menindaklanjuti skill yang didapat selama pelatihan. Padahal, pelatihan keterampilan kerja itu diproyeksikan bisa menciptakan kemandirian wirausaha baru.
Kepala Bidang (Kabid) Produktivitas Pelatihan Kerja Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Ketenagakerjaan (Diskop UKM dan Naker) Pamekasan Ika Yulia Rakhmawati mengatakan, dari 80 peserta yang sudah mengikuti pelatihan keterampilan kerja, hanya 30 persen yang membuka usaha secara mandiri setelah mengikuti pelatihan.
“Itu bergantung pada kemauan (buka usaha) juga. Rata-rata mereka hanya ingin mengikuti pelatihan saja, tanpa tindak lanjut apa-apa,” terang Ika, Selasa (17/9/2024).
Padahal, kata Ika, pihaknya tidak hanya menyediakan pelatihan keterampilan kerja. Namun, juga menyediakan peminjaman modal untuk pelaku usaha.
“Kembali ke semula lagi, bergantung kemauan. Padahal terkait pemasarannya juga sudah diberikan sosialisasi,” tambahnya.
Saat ini, dari tujuh paket pelatihan, tersisa dua pelatihan yang belum terealisasi. Pasalnya, masih menunggu kuota terpenuhi. Pihaknya tidak bisa memastikan terkait realisasi pelatihan keterampilan kerja tersebut. Namun, Ika memastikan sisa paket pelatihan itu akan terealisasi dalam waktu dekat.
Tahun ini terdapat tujuh paket dari lima jenis pelatihan yang dialokasikan Rp350 juta bersumber dari DBHCHT, yakni pelatihan tata rias, desain grafis, bordir, dan menjahit. Selain itu, juga ada pelatihan tata boga yang terdiri dari tiga paket.
Adapun pelatihan yang sudah terealisasi adalah desain grafis, bordir, menjahit, dan tata boga tahap pertama.
“Tersisa dua paket pelatihan tata boga yang belum. Kuotanya 16 orang per paket. Sekarang pendaftar masih kurang,” tutupnya. (nur/zul)





