KABAR MADURA | Dipercaya menjadi pelatih silat di usia yang masih terbilang muda adalah suatu hal yang tidak terduga bagi Alisya Trijanuariska, gadis 14 tahun asal Kelurahan Kanginan, Pamekasan. Apalagi dengan itu, dirinya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa harus membebani orang tuanya.
SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN
Gadis kelahiran tahun 2010 yang akrab disapa Ica itu aktif menjadi pesilat sejak kelas V sekolah dasar (SD). Semua itu berawal dari dirinya yang hanya ikut sepupu latihan silat. Namun, akhirnya Ica kecil tertarik terhadap silat. Sejak itu, ia berlatih secara sungguh-sungguh.
Beragam macam prestasi pernah diraihnya, mulai dari tingkat kabupaten hingga nasional. Bahkan, dalam waktu dekat, Ica yang kini masih duduk di bangku kelas IX sekolah menengah pertama (SMP) itu akan mengikuti Kejuaraan Nasional (Kejurnas) di Malang.
“Pernah merasa bosan berlatih, tapi gak tahu tetap saja masih bertahan,” ungkapnya, Rabu (20/11/2024).
Di usianya yang masih 14 tahun, Ica tidak menyangka bisa dipercaya menjadi pelatih. Rasa senang dan takut ia rasakan. Sebab, takut tidak mampu menjadi pelatih yang baik terhadap anak didiknya. Namun dari situ, Ica terus belajar untuk bisa memberikan pelatihan terbaik.
Tidak dipungkiri, Ica juga sangat bersyukur dipercaya menjadi pelatih. Sebab, dirinya bisa memenuhi keinginannya secara finansial tanpa harus membebani orang tua. Bahkan, dirinya kerap kali tidak meminta uang jajan sekolah kepada orang tuanya. Tidak hanya itu, dalam membeli perlengkapan sekolahnya pun, ia bisa mengaver sendiri.
“Kalau uang saya habis, kadang minta ke orang tua. Satu minggu melatih satu kali. Honornya Rp40 ribu,” terang srikandi yang bersabuk kuning itu.
Bagi Ica, masih banyak yang perlu dikejar dalam karirnya di dunia persilatan. Oleh karenanya, ia tetap konsisten berlatih untuk meningkatkan performanya, baik sebagai pelatih ataupun lainnya.
“Kadang mereka (yang dilatih) susah diatur, itu kendalanya,” tukas anak bungsu dari tiga bersaudara itu. (zul)





