KABAR MADURA | Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Pamekasan, angka partisipasi sekolah usia 16 hingga 18 tahun mencapai 65,82 persen. Artinya, sekitar 34 persen tidak melanjutkan ke jenjang menengah atas atau SMA sederajat.
Ketua Dewan Pendidikan (DP) Pamekasan Sahibudin mengatakan, predikat Pamekasan sebagai Kota Pendidikan harus tetap terjaga. Pasalnya, hal itu menandakan bahwa Pamekasan ini memiliki peningkatan yang cukup signifikan di dunia pendidikan.
Oleh karena itu, menurutnya, diperlukan pendataan yang masif dan bersinergi antar stakeholder terkait. Pihaknya berjanji akan melakukan pengawalan terhadap peningkatan pendidikan di Pamekasan.
“Dalam peningkatan pendidikan di Pamekasan harus ada sinergi antar stakeholder, mulai dari Disdikbud, Kemenag, ataupun Cabang Dinas Pendidikan Provinsi, terutama dalam pendataannya,” ungkapnya, Selasa (17/12/2024).
Sementara itu, Sosiolog Madura Novi Kamalia menuturkan, banyaknya anak usia sekolah yang tidak melanjutkan ke jenjang menengah ayas dipengaruhi oleh sejumlah faktor, satu di antaranya kondisi sosial di lingkungan masyarakat.
Menurutnya, apabila angka itu rata-rata terjadi di lingkungan desa, keputusan tidak lanjut ke jenjang menengah atas bisa dipengaruhi oleh persepsi sekitar. Seperti, terpaksa harus merantau bagi laki-laki atau tidak lanjut sekolah karena dinikahkan bagi perempuan.
“Tidak mungkin mereka tidak lanjut sekolah karena semata-mata hanya ingin ‘tidak bersekolah’. Karena akses untuk sekolah sekarang mudah. Banyak sekolah gratis dan cukup murah. Pasti ada faktor sosial lain yang mempengaruhi. Itu yang harus ditelaah,” tegasnya. (nur/zul)





