Meneladani Pengabdian Guru Honorer yang Motornya Dibakar, Mengajar sejak Belum Lulus SMA

Harmoni141 views

Mengabdi sebagai guru honorer bukan perkara mudah. Apalagi tempat pengabdiannya di pelosok. Selain bayarannya tidak seberapa, tantangan dan ancaman harus dilalui, sehingga membutuhkan perjuangan pengabdian yang lebih keras. Hal itu yang dirasakan Nurdin, guru honorer di Sumenep yang sempat viral motornya dibakar.

MOH. RAZIN, SUMENEP

Nurdin kini sudah berusia 51 tahun. Dia sudah 35 tahun menjadi guru honorer di Kecamatan Arjasa, Kepulauan Kangean, Sumenep, tepatnya di SMA Putra Bangsa. Dia memilih menjadi guru swasta sejak 1990 silam, saat masih belum lulus SMA.

Nurdin tergolong warga tidak mampu. Tinggal sebatang kara di sebuah rumah gedek di Desa Pajanangger, Kecamatan Arjasa. Selama berjuang untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang berkarakter, dia harus menghadapi berbagai rintangan.

“Saya hanya ingin berbagi ilmu, bukan hanya dalam membaca dan menulis, tapi juga tentang budi pekerti,” tuturnya saat dihubungi Kabar Madura, Selasa (21/1/2025).

Baca Juga:  Anak 14 Tahun di Kangean Dirudapaksa, KOPRI PMII Sumenep Desak Penuntasan tanpa Kompromi

Perjalanan pengabdian panjang itu tidak mudah. Nurdin sering menghadapi hinaan dan ancaman. Insiden terbaru, motornya dibakar dan diancam dibunuh dengan pedang oleh seorang pemuda, Senin (13/1/2025). Menurutnya, itu salah satu ujian terberat yang harus ia lalui selama hidupnya.

Selama ini, hidup Noeruddin biasa-biasa saja. Namun, ia konsisten menanamkan nilai-nilai moral dan adab kepada para muridnya. Baginya, karakter adalah fondasi penting untuk membangun bangsa yang kuat, terutama di tengah tantangan era modern.

“Motor itu dibakar saat saya pulang dari mengajar oleh seorang warga, mungkin karena ada kesalahpahaman saja,” imbuhnya.

Meski begitu, Nurdin tidak gentar. Kejadian itu justru semakin memperkuat tekadnya untuk terus mengabdi. Ia menduga pelaku pembakaran termakan fitnah dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Tetapi, kini ia sudah memilih untuk pasrah.

Baca Juga:  Sambut Harlah ke-92, GP Ansor Lenteng Sumenep Bangun Rumah Anak Yatim

Dia berharap, insiden itu menjadi pengingat bagi semua pihak tentang pentingnya pendidikan moral. Ia mengaku prihatin melihat semakin banyaknya generasi muda yang terjerumus dalam pergaulan negatif.

“Segala cobaan yang datang adalah ujian. Semakin diuji, semakin kuat cinta saya untuk dunia pendidikan,” ungkapnya.

Nurdin berkomitmen untuk terus melanjutkan tugas mulianya di tengah berbagai keterbatasan. Ia menjadi simbol keteguhan seorang guru yang tidak pernah lelah mencerdaskan anak bangsa, meskipun hidupnya sendiri penuh dengan cobaan.

“Saya berharap kejadian ini menjadi pelajaran bahwa pendidikan moral sangat penting untuk anak-anak kita, apalagi pelakunya sudah mendapatkan hukuman, sudah ditangkap,” pungkasnya. (zul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *