Pemeliharaan Food Colony di Pamekasan Tidak Dianggarkan

News196 views

KABAR MADURA | Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan berhasil menertibkan pedagang kaki lima (PKL) yang menduduki area Monumen Arek Lancor. Kini, sejumlah PKL itu mulai menempati Food Colony Sae Salera, yang berlokasi di jalan Kesehatan, Barurambat Kota, Kecamatan Pamekasan.

Namun, Food Colony Sae Salera yang saat ini ditempati para PKL itu tidak dibarengi dengan kesiapan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk melakukan pengajuan anggaran pemeliharaan tempat tersebut. Akibatnya, tahun ini pemerintah setempat tidak memiliki biaya perawatan untuk aset di Food Colony.

Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Ketenagakerjaan (Diskop UKM dan Naker) Pamekasan Muttaqin mengatakan, ramainya PKL di Food Colony terjadi baru-baru ini. Sehingga, sebelumnya tidak dilakukan pengajuan anggaran pemeliharaan, karena di tempat tersebut sepi peminat.

Baca Juga:  APHT di Pamekasan Rutin “Disuntik” Anggaran Meski Izin Produksi Tidak Tuntas, 2026 Dapat Rp550 Juta

“Terdapat 140 hingga 150-an PKL yang terdata dan mau menempati Food Colony. Rata-rata dari mereka juga ada yang bersedia menempati kiosnya,” terang Muttaqin, Minggu (2/2/2025).

Kendati tidak ada anggaran khusus pemeliharaan, kata Muttaqin, Pemkab Pamekasan akan memenuhi fasilitas yang dibutuhkan para PKL di Food Colony, seperti air, listrik, tenda, dan beberapa fasilitas lain yang dibutuhkan. Namun, pihaknya mengakui, untuk air dan listrik, dibayar secara mandiri oleh masing-masing pedagang.

“Untuk renovasi kios secara besar-besaran sepertinya tidak. Tapi kami upayakan ada pemeliharaan, menyesuaikan dengan kebutuhan pedagang dan pemenuhan fasilitas pendukung lain,” jelasnya.

Baca Juga:  Sediakan Fasilitas Ojek Gratis, Polres Pamekasan Kerahkan Personel Gabungan Amankan Keberangkatan CJH 2026

Pihaknya berharap, masyarakat bisa lebih bijak dalam melakukan transaksi jual beli. Salah satunya, tidak melakukan transaksi pembelian di zona terlarang.

Untuk diketahui, sentra PKL yang dibangun sejak pemerintahan Bupati Baddrut Tamam itu tidak diminati oleh PKL. Padahal, tempat tersebut digadang-gadang menjadi pusat kuliner UMKM. Tidak diminatinya kawasan Food Colony tersebut lantaran desain kios dianggap tidak strategis bagi PKL. Para PKL pun tetap memilih berjualan di zona terlaran. (nur/din)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *