Setiap pribadi memiliki cerita yang berbeda dalam perjalanan hidupnya, termasuk dalam memilih karir. Seperti yang dialami Rektor Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura Prof. Rachmad Hidayat. Perjalanan karirnya di dunia pendidikan hingga sukses menjadi pucuk pimpinan di perguruan tinggi penuh dengan senyuman dan air mata. Siapa sangka, dia pernah dicemooh hanya karena mengambil kuliah jurusan teknik.
MOH.RAZIN, SUMENEP
Sambil duduk tenang, sekitar pukul 14.30 WIB, Selasa (18/2/2025), Prof. Rachmad bercerita tentang pengalaman panjangnya di dunia pendidikan.
Rachmad kecil mengenyam sekolah dasar hingga tingkat menengah atas di Sumenep. Cerita mengesankan dimulai sejak mau masuk perguruan tinggi. Pasalnya, pilihannya ditentang oleh keluarga. Sebab, dia memilih jurusan kuliah berbeda dengan kebiasaan keluarganya yang kental dengan ilmu agama.
Meski demikian, Rachmad tidak pernah mundur dan menyerah. Karena dia meyakini pilihan pendidikan itu penting untuk menentukan nasib seseorang di masa depan, terutama untuk mengarungi kehidupan yang lebih mudah.
“Keluarga saya agamis. Ayah guru agama, tetapi saya memilih berbeda. Sehingga sempat dicemooh, saat menempuh pendidikan di jurusan teknik,” ungkapnya kepada Kabar Madura.
Sebab ditentang dan dicemooh, Rachmad semakin semangat untuk membuktikan bahwa pilihannya adalah langkah yang tepat. Tahun 1996, dia sudah lulus sebagai sarjana teknik. Setelah itu, Rachmad diterima kerja di perusahaan Asta Internasional dengan gaji Rp1,2 juta. Gaji yang cukup menggiurkan ketika itu, di saat UMK kala itu masih sekitar Rp450 ribu.
Tidak lama dari itu, Rachmad memilih berhenti bekerja dan melanjutkan pendidikan magister. Keputusan ini diambil tanpa pikir panjang, mengingat pendidikan bagi keluarganya merupakan tradisi yang dirawat turun temurun.
Selama mengenyam pendidikan magister bukan tanpa rintangan. Namun dia tetap gigih untuk nasib masa depan. Setelah lulus S2, Rachmad diterima mengajar di beberapa perguruan tinggi. Ketika itu, dia hanya mendapatkan gaji Rp300 ribu per bulan. Penghasilan yang jauh tidak sebanding dengan gaji yang pernah diterima saat bekerja di Asta Internasional.
Akan tetapi, di tengah kondisi seperti itu, dia diyakinkan oleh pernyataan bahwa bukan pekerjaan yang menghasilkan uang, melainkan komitmen dan inovasi untuk terus berkembang. Alhasil, hal itu menjadi nyata setelah dua tahun menjadi dosen, dia sudah bisa mendapat honor Rp1,2 juta per bulan.
“Intinya pendidikan itu yang menjadi jalan untuk memudahkan semuanya,” imbuhnya.
Tidak berhenti di situ, meski sudah menjadi dosen di beberapa kampus dan bahkan menjadi kepala jurusan (kajur), Rachmad tidak berpuas diri. Dia memilih berhenti mengajar dan melanjutkan pendidikan lagi.
“Karena ada aturan jika sudah mengajar atau dosen di kampus tempat saya mengajar tidak boleh melanjutkan pendidikan lagi, maka saya berhenti dan melanjutkan S3,” paparnya.
Rachmad sangat haus ilmu. Selain menempuh S3, dia juga kembali berkuliah S2 secara bersamaan. Pada usia 30 tahun, dia sudah menyandang gelar doktor.
Atas perjuangan panjangnya itu, setelah menjadi dosen di Universitas Trunojoyo Madura (UTM), dia berhasil menyandang gelar guru besar. Secara hitung-hitungan sudah nyaman. Tetapi, dia lagi-lagi tidak mau berhenti di situ, dia tidak memilih zona nyaman itu, dia keluar dan mengambil tawaran untuk menjadi rektor UNIBA Madura.
“Alhamdulillah sekarang masuk tahun ke-6, semua mimpi-mimpi saya bersama UNIBA Madura hampir tercapai semua,” pungkasnya. (zul)





