KABAR MADURA | Sikap tegas ditunjukkan Rektor Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura Prof. Rachmad Hidayat, terkait wacana pelibatan perguruan tinggi dalam pengelolaan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Alih-alih terjun langsung dalam pengelolaan dapur yang dinilai memiliki unsur bisnis, Prof. Rachmad menegaskan bahwa kampus harus tetap berdiri sebagai lembaga akademik yang menjaga independensi dan marwah pendidikan tinggi.
“Kalau menurut saya, kampus adalah lembaga akademik. Kurang pas kalau kampus juga terlibat dalam SPPG,” tegasnya.
Menurutnya, dukungan perguruan tinggi terhadap program strategis pemerintah tetap penting, terutama dalam upaya meningkatkan kualitas gizi anak bangsa. Namun, bentuk keterlibatan kampus dinilai lebih tepat melalui fungsi pengawasan, edukasi, riset, dan pendampingan pelaksanaan program.
“Kami mendukung penyediaan gizi untuk anak-anak bangsa. Tapi lebih baik kampus menjadi lembaga yang mengawasi kegiatan SPPG saja,” ujarnya.
Pandangan tersebut memperlihatkan komitmen kuat UNIBA Madura dalam menjaga identitas kampus sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, bukan lembaga yang terjebak pada aktivitas bernuansa komersial.
Prof. Rachmad menilai pengelolaan SPPG tidak bisa dilepaskan dari sisi bisnis yang berpotensi mengaburkan fungsi utama perguruan tinggi sebagai institusi akademik.
“SPPG ini kan juga ada sisi bisnisnya. Kampus itu lembaga akademik non-waralaba. Kami harus menjaga marwah kampus sebagai lembaga akademik,” katanya.
Sementara itu, Rektor Universitas Trunojoyo Madura, Safi’, memiliki pandangan berbeda. Dia justru menyambut positif pelibatan perguruan tinggi dalam program MBG karena dinilai mampu memperkuat tata kelola dan pengawasan program secara profesional.
“Menurut saya, keputusan melibatkan perguruan tinggi memiliki keunggulan tersendiri, terutama dalam memastikan pengelolaan dan pengawasan program berjalan optimal,” ujarnya.
Dia juga menegaskan kesiapan UTM apabila dipercaya menjadi mitra SPPG berbasis kampus. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki kapasitas akademik, sosial, dan sumber daya pendidikan yang memadai untuk mendukung keberhasilan program nasional tersebut.
Sebelumnya, Badan Gizi Nasional (BGN) memang mendorong seluruh perguruan tinggi menjadikan program Makan Bergizi Gratis sebagai “laboratorium hidup” untuk memperkuat riset, pengabdian masyarakat, hingga pengembangan pendidikan lintas disiplin. (ara/waw)






