KABAR MADURA | Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Ketenagakerjaan (Diskop UKM dan Naker) Pamekasan Muttaqin menyebutkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Pamekasan terus mengalami penurunan. Namun dari jumlah pengangguran yang ada, nilainya masih tergolong tinggi.
Menurutnya, TPT menurun di angka 2,18 persen pada 2024. Berdasarkan data ketenagakerjaan, jumlah pengangguran pada 2023 tercatat 9.056 orang, kemudian berkurang menjadi 8.863 orang di 2024.
Dari jumlah tersebut, Muttaqin mengaku masih punya tanggungjawab yang serius untuk menemukan solusi bagi 8.863 pengangguran di tahun ini.
“Penurunan angka pengangguran dari 2023 ke 2024 sebanyak 193 orang atau 2,18 persen. Ini akan menjadi evaluasi bagi kami untuk terus meningkatkan peluang kerja di Pamekasan,” ujarnya, Selasa (25/2/2025).
Muttaqin menegaskan, tidak semua pengangguran di Pamekasan mendaftarkan dirinya sebagai pencari kerja secara resmi. Hal ini terlihat dari jumlah pendaftar kartu kuning (AK1) yang terus menurun.
Pada 2023, pendaftar AK1 tercatat sebanyak 750 orang, menurun menjadi 672 orang di 2024. Hingga awal 2025 ini, baru tercatat 50 orang pencari kerja yang mendaftarkan diri.
Dalam upaya menekan angka pengangguran, pihaknya telah menyiapkan berbagai program, seperti pelatihan berbasis kompetensi, sosialisasi peluang kerja, job fair, serta program lain yang mendukung peningkatan keterampilan tenaga kerja.
Menurutnya, jumlah pengangguran dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk terbatasnya peluang kerja yang tersedia, serta ketidaksesuaian kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan pasar kerja.
“Dari total angka pengangguran yang ada, hanya sekitar 10 persen yang mendaftar AK1. Ini menunjukkan bahwa banyak pencari kerja yang belum memanfaatkan fasilitas tersebut,” tambahnya.
Dengan berbagai program yang telah disiapkan, Diskop UKM dan Naker Pamekasan berharap, angka pengangguran dapat terus ditekan dan masyarakat lebih mudah mendapatkan pekerjaan sesuai keterampilan yang dimiliki.
Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan Halili Yasin mengatakan, peluang kerja di Pamekasan memang sangat rendah. Banyak masyarakat yang masih menganggur, baik itu lulusan sekolah menengah atas (SMA) maupun yang sudah berstatus sarjana.
Sampai saat ini, pemerintah belum mempunyai terobosan untuk mengatasi persoalan tersebut. Untuk itu, dinas terkait diminta untuk lebih kreatif dan cerdas dalam mencarikan solusi dalam persoalan ini.
“Ya, kesulitan kita di Pamekasan ini sepi investasi, sehingga membuat Pamekasan agak sulit membuka lapangan kerja yang cukup,” katanya. (KM62/din)





