Sinergi Agama dan Teknologi: Kunjungan Kasubdit Kemenag di IBS PKMKK

Pendidikan115 views

KABAR MADURA | PAMEKASAN, 22 Agustus 2025 – Islamic Boarding School Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (IBS PKMKK) mendapat kunjungan istimewa dari Kasubdit Ketenagaan Kementerian Agama RI, Muhammad Aziz Hakim, M.H. Kunjungan pada 22 Agustus 2025 ini bertujuan untuk bersilaturahim, berdialog tentang isu-isu di lingkungan Kementerian Agama, serta memberikan motivasi kepada para santri.

Dalam penjelasannya, Muhammad Aziz Hakim menyampaikan pandangannya tentang beratnya tanggung jawab yang diemban oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kementerian Agama. Menurutnya, ASN Kemenag memiliki beban moral lebih besar karena membawa nama “agama.”

“Jika ASN di kementerian lain melakukan pelanggaran, mungkin masyarakat masih bisa memaklumi. Tetapi jika ASN Kementerian Agama melakukan kesalahan, dampaknya lebih besar karena dianggap mencoreng nama agama itu sendiri,” ujar Aziz.

Baca Juga:  Tradisi Balap Liar dan Tanggung Jawab Otoritas Sosial: Puasa di Persimpangan Nilai dan Anomi Sosial

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga integritas dan nama baik Kementerian Agama, yang secara tidak langsung juga merupakan upaya menjaga nama baik agama.

Menanggapi fokus IBS PKMKK pada teknologi, Aziz memberikan apresiasi tinggi. Ia menyebutnya sebagai hal yang “sangat luar biasa.” Ia juga menyampaikan pandangan yang mendalam tentang hubungan antara teknologi dan agama.

Menurut Aziz, perkembangan teknologi menjadi faktor utama perubahan di dunia, bukan semata-mata karena agamawan. Ia menegaskan bahwa tugas utama agamawan adalah memastikan teknologi digunakan untuk kebaikan.

“Agama itu menjadi pelengkap, agar keberadaan teknologi menjadi suatu keberhasilan dalam mencapai kebaikan dan kesejahteraan bersama,” jelasnya.

Baca Juga:  Penyerahan 197 Buku Santri IBS PKMKK dalam Kunjungan Kepala Kementerian Agama Jawa Timur

Di hadapan santri IBS PKMKK, Aziz juga memberikan motivasi. Ia menyarankan para santri untuk menjadi kompeten dalam satu bidang, dengan mengutip pepatah, “Lebih baik tahu banyak pada sedikit hal, daripada tahu sedikit banyak hal.”

Menurutnya, masyarakat cenderung mencari ahli atau spesialis untuk layanan tertentu. Pesan ini sejalan dengan pandangan dalam Kitab Ta’lim, yang menyebutkan bahwa manusia tidak diwajibkan untuk menguasai semua ilmu, melainkan memahami hal-hal yang menjadi tumpuan utama umat beragama.

Pada akhirnya, ia mengingatkan para santri bahwa manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan. Dengan menguasai satu bidang secara mendalam, seseorang bisa menjadi bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, serta dapat berkolaborasi tanpa membawa gengsi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *