KABAR MADURA | Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan mencatat 261 warga terduga campak. Dari jumlah itu, 123 orang dipastikan positif berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pamekasan, Avira Sulistyowati menjelaskan, seluruh spesimen pasien suspect dikirim ke Balai Laboratorium Kesehatan Surabaya. Hal itu untuk mendapatkan hasil diagnosis pasti.
“Jadi 261 itu bergejala seperti campak, kemudian kami ambil spesimennya. Sampai 23 Agustus, hasil laboratorium menyatakan 123 positif,” katanya, Senin (25/8/2025).
Menurut Avira, tingginya jumlah kasus dipicu rendahnya imunisasi. Ia menegaskan, mayoritas pasien positif campak tidak pernah mendapat imunisasi campak. Meski begitu, pihaknya memastikan tidak ada kasus kematian, baik di tahun 2024 hingga Agustus 2025.
Pada tahun 2024 lalu, Pamekasan hanya mencatat 25 kasus campak. Kondisi tahun ini menunjukkan lonjakan signifikan, sehingga dibutuhkan langkah cepat dan tepat untuk menekan penyebaran penyakit tersebut.
Sebagai tindak lanjut, lanjut Avita, Dinkes Pamekasan melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi massal di wilayah dengan temuan kasus terbanyak. Program ini dimulai pada 20 Agustus 2025, diawali di Puskesmas Panaguan.
Dinkes berharap kasus campak bisa ditekan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya imunisasi sejak dini.
“ORI ini untuk memutus rantai penyebaran. Kami lakukan bertahap di daerah dengan kasus tinggi,” pungkasnya. (rul/ong)





