KABAR MADURA | Program makan bergizi gratis (MBG) makan korban, didiuga habis menyantap menu yang disajikan, puluhan siswa di Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, Selasa(9/9/2025) mengalami keracunan hingga harus mendapatkan perawatan medis.
Semua pihak diminta bertanggung jawab atas insiden tersebut, lebih-lebih pengelola dapur program MBG.
Hanya saja, pihak terkait memastikan bahwa siap bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Sebagaimana dikatakan perwakilan dapur MBG di Kecamatan Tlanakan, Syaiful Arif, pihaknya menyampaikan permohonan maaf kepada semua pihak yang terdampak, terutama para siswa.
Dia menjelaskan, dapur tersebut saat ini menyalurkan makanan program MBG ke 21 sekolah dengan total penerima manfaat sekitar 1.700 siswa.
“Kami dengan sepenuh hati memohon maaf, terutama kepada adik-adik yang mengalami gangguan kesehatan. Kami berkomitmen untuk bertanggung jawab sepenuhnya,” paparnya, Rabu (10/9/2025).
Menurut Syaiful, penyaluran makanan bergizi gratis itu masih dalam tahap uji coba. Program baru berjalan Senin (8/9/2025) dan peristiwa yang tidak dinginkan itu terjadi pada hari kedua. Meski demikian, distribusi tetap berlanjut sebagaimana mestinya.
Langkah awal yang dilakukan pihak yayasan adalah menginventarisasi data siswa yang terdampak. Syaiful memastikan, tindak lanjut berupa kunjungan, koordinasi, hingga upaya rehabilitasi akan segera dilakukan.
“Intinya kami akan mengambil langkah terbaik untuk para siswa, dengan tetap menjalin komunikasi dengan sekolah maupun instansi yang berwenang,” katanya.
Ketua DPRD Pamekasan, Ali Masykur, turut meninjau langsung sejumlah fasilitas kesehatan yang merawat siswa. Politisi Partai Persatuan Pembangunan itu menyampaikan, sebagian besar siswa sudah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan perawatan.
“Alhamdulillah banyak yang sudah membaik. Hanya beberapa siswa yang kondisinya lebih berat karena mengonsumsi makanan dalam porsi penuh yang masih dalam perawatan,” jelasnya.
Ali menegaskan, pentingnya evaluasi dalam pengelolaan dapur makan bergizi gratis. Ia mendorong agar semua pihak yang terlibat lebih teliti dalam proses pengolahan dan distribusi makanan.
“Ke depan, kami harap dapur-dapur yang ada lebih serius dalam manajemen penyajian, higienitas, serta pendampingan tenaga gizi agar makanan yang diberikan benar-benar aman,” ungkapnya.
Ali Masykur menekankan, program MBG merupakan langkah baik untuk mendukung kesehatan siswa, sehingga harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
“Dengan evaluasi dan pembenahan, kami yakin program ini akan tetap membawa manfaat besar bagi anak-anak kita,” tandasnya.
Hasil temuannya di lapangan, Menurut Ali Masykur, dugaan insiden itu bukan nasi basi, melainkan nasi dan lauk yang masih panas langsung dikemas dalam wadah tertutup. Hal itu diduga menimbulkan reaksi yang membuat orang yang mengonsumsi makanan tersebut bisa terganggu kesehatannnya. (rul/ong)





